Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa program master di Tokyo

Penulis: Irwan Liapto Simanullang

Abstrak

Tokyo adalah salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Akan tetapi, Tokyo merupakan salah satu kota tujuan para mahasiswa dari Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memberikan tunjangan penuh baik untuk uang sekolah dan biaya hidup. Nilai beasiswa sebesar 147.000 yen per bulan untuk mahasiswa program master dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup para mahasiswa di Tokyo. Berdasarkan pengalaman penulis, sekitar 70% dari total beasiswa habis terpakai untuk memenuhi kebutuhan rutin setiap bulannya.

Kata kunci: beasiswa MEXT, Tokyo Tech, optimasi, biaya hidup, mahasiswa.


Latar belakang

Melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di negara maju merupakan impian banyak pelajar. Salah satu faktor yang menjadi penentu seseorang melanjutkan pendidikan terutama untuk program master dan doctor adalah beasiswa. Hal ini disebabkan karena biaya pendidikan dan biaya hidup yang berbeda beda ditiap negara. Jepang sebagai salah satu negara maju di dunia menjadi daya tarik banyak mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan sekolah terutama dibidang teknologi. Tokyo yang merupakan ibukota negara Jepang, mempunyai banyak universitas ternama yang menjadikan kota ini magnet untuk para pelajar di Indonesia. Sebut saja Tokyo Institute of Technology atau yang lebih dikenal dengan Tokyo Tech (dalam bahasa Jepang Tokodai) mempunyai jumlah mahasiswa Indonesia sekitar 180 orang pada tahun 2017. Hampir sebagian besar mahasiswa Indonesia tersebut memperoleh beasiswa baik dari pemerintah Indonesia, pemerintah Jepang, maupun dari perusahaan. Penulis sendiri memperoleh beasiswa dari kementerian pendidikan Jepang (beasiswa MEXT).

Disisi lain, Tokyo merupakan salah satu kota dengan tingkat biaya hidup yang sangat mahal. Sehingga menjadi pertanyaan, apakah beasiswa yang diberikan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup normal para mahasiswa. Penulis akan berbagi pengalaman tentang berapa jumlah beasiswa dan bagaimana mengatur agar uang beasiswa yang diberikan bisa memenuhi kebutuhan hidup. Penulis merupakan alumni dari Tokyo Tech. Untuk program master, MEXT akan memberikan beasiswa sebesar 147.000 yen per bulan dan bebas biaya kuliah selama 2 tahun.

Tujuan dari tulisan ini untuk membuktikan bahwa jumlah beasiswa tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup normal di Tokyo selama sebulan.

Methodologi

Tulisan ini pada dasarnya dibuat berdasarkan pengalaman nyata penulis yang menjalani hidup dengan normal selama 2 tahun (2012-2014) menjalani kehidupan sebagai mahasiswa master di Tokyo Tech. Walaupun pengalaman yang dibagikan sudah sekitar 5 tahun yang lalu, namun masih sangat relevan mengingat jumlah beasiswa yang diterima sampai tahun 2018 masih pada nominal yang sama dengan tingkat biaya hidup selama 5 tahun terakhir yang relatif stabil.

Pada umumnya, banyak mahasiswa yang selama berkuliah mendapat tambahan pemasukan mulai dari proyek lab, menjadi asisten, bahkan kerja sambilan di luar kampus. Oleh karena itu, tulisan ini hanya membatasi pada jumlah beasiswa yang diterima dan hanya untuk mahasiswa yang berstatus lajang ataupun berkeluarga tetapi tidak membawa serta keluarganya. Tidak ada metodologi khusus yang dibagikan, hanya berdasarkan pengalaman penulis yang sudah hidup mandiri sejak SMA.

Analisa biaya hidup

  • Jadwal pemberian beasiswa MEXT

Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang rutin melakukan pengiriman uang ke rekening para mahasiswa setiap bulan. Pada umumnya uang beasiswa diberikan di minggu terakhir setiap bulannya (sekitar tanggal 23-26). Oleh karena itu, mahasiswa baru wajib membawa bekal uang pegangan selama satu bulan pertama sebelum beasiswa diterima.

Khususnya untuk mahasiswa Tokyo Tech, setiap penerima wajib mendatangi bagian International Student Support setiap bulan untuk menandatangi form beasiswa. Apabila mahasiswa tidak/lupa menandatangi beasiswa pada bulan itu maka beasiwa pada bulan itu akan hangus. Ada dua kali periode tanda tangan beasiswa. Sebagai contoh, untuk memperoleh beasiswa di bulan November (beasiswa diberikan tanggal 23 Nov), maka mahasiswa wajib tanda tangan dari tanggal 1-7 Nov. Apabila mahasiswa lupa tanda tangan pada periode tersebut, maka mahasiswa masih diberikan kesempatan tanda tangan dari tgl 8-30 Nov dengan konsekuensi beasiswa bulan Nov akan diterima pada pertengahan bulan Desember. Apabila mahasiswa lupa tanda tangan pada bulan itu, maka dipastikan mahasiswa tersebut tidak akan mendapat beasiswa di bulan itu. Hal ini merupakan kontrol dari pemberi beasiswa kepada para penerima beasiswa.

  • Kampus Tokyo Institute of Techology

Tokyo Tech mempunyai tiga lokasi kampus yang berbeda yaitu di Tokyo (Kampus Ookayama dan Tamachi) dan di Yokohama (Kampus Suzukakedai). Ookayama dan Suzukakedai adalah dua kampus utama Tokyo Tech. Lokasi kampus yang berada di dua wilayah yang berbeda ini memberikan pengaruh terhadap komponen biaya hidup terutama biaya sewa rumah.

  • Biaya hidup mahasiwa master tahun pertama

Pada umumnya, mahasiwa baru yang masih berstatus lajang atau yang sudah menikah tapi tidak membawa keluarga berkesempatan untuk tinggal di asrama kampus. Khusus untuk mahasiswa Tokyo Tech, terdapat beberapa asrama untuk mahasiswa (asrama pria, asrama perempuan, dan asrama campuran). Lokasi asrama sangat tersebar mulai dari yang dekat kampus sampai yang membutuhkan waktu sekitar 40-50 menit ke kampus. Pihak universitas pada umumnya akan memberitahukan asrama yang diperoleh sebelum berangkat ke Jepang. Tabel 1 menunjukan daftar beberapa asrama Tokyo Tech untuk mahasiswa baru beserta estimasi biaya masing-masing asrama.

 Tabel 1. Daftar asrama beserta biaya sewa untuk mahasiswa baru Tokyo Tech1

Nama asrama Biaya sewa (¥) Luas (m2)
Komaba International House 34.900 15
Shofu Dormitory 20.900 13
Umegaoka Dormitory 20.900 13

Salah satu komponen paling mahal tinggal di Tokyo adalah biaya sewa rumah atau kos-kosan (dijepang biasa disebut apato). Sebagai gambaran, biaya apato disekitar kampus Ookayama untuk ukuran 1K atau studio berkisar 40.000-60.000 yen per bulan tergantung dengan kondisi bangunan. Dapat dilihat bahwa perbedaan harga sewa apato dan beberapa asrama memberikan pengaruh yang signifikan terhadap biaya pengeluaran. Selain biaya sewa asrama, komponen pengeluaran rutin lainnya adalah gas, listrik dan air. Untuk yang tinggal di asrama khususnya Shofu dan Umegaoka harga yang dikeluarkan sekitar 3.000 – 5.000 yen per bulan. Pada umumnya, musim panas dan musim dingin memberikan kontribusi signifikan terdapat biaya tersebut.

Daftar asrama yang tertera di Tabel 1 tidak ada yang berlokasi dekat dengan kampus Tokyo Tech manapun. Oleh karena itu, perlu tambahan biaya transportasi setiap hari. Moda transportasi di Tokyo dan Yokohama pada umumnya adalah kereta. Beruntungnya, setiap anak sekolah dan mahasiswa berhak memperoleh potongan harga tiket yang cukup signifikan. Sebagai gambaran, harga normal tiket commuter satu bulan dari Shofu ke kampus Ookayama sekitar 9.250 yen. Tetapi, dengan potongan mahasiswa bisa menjadi sekitar 3.500 – 4.500 yen (harga pastinya bisa dicek langsung ke petugas stasiun). Dengan demikian, total biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan rumah dan transportasi sekitar 30.000 yen (sekitar 20% dari uang beasiswa) untuk mereka yang mendapatkan asrama di Shofu dan Umegaoka. (Lokasi Shofu dan Umegaoka lumayan berdekatan, sehingga biaya transportasi hampir sama). Akan tetapi, biaya ini akan meningkat apabila tinggal diluar dari kedua asrama tersebut. Penulis sendiri tinggal di asrama Shofu.

Selain biaya apato dan transportasi, pengeluaran wajib lainnnya adalah konsumsi atau biaya makan sehari hari. Penilaian akan biaya makan akan bersifat subjektif karena perbedaan selera, kebiasaan makan seseorang, dan faktor agama (halal dan non halal). Untuk bagian ini, penjabaran akan dituliskan berdasarkan pengalaman sehari hari penulis.

Biaya sarapan yang dikeluarkan per hari berkisar 100 – 150 yen yang digunakan untuk membeli roti. Hal ini disebabkan karena penulis lebih suka memakan roti untuk sarapan. Banyaknya convenience store (dalam bahasa jepang konbini) seperti seven eleven, family mart, Lawson, sangat memudahkan dan membantu mahasiswa untuk menemukan sarapan yang enak dan sehat.

Selama berkuliah di Tokyo Tech, penulis hampir 90% menghabiskan makan siang di kantin kampus. Dengan pilhan menu yang bervariasi, kantin kampus merupakan tempat yang menarik untuk makan siang, tentunya didukung dengan harga yang murah. Biaya yang dihabiskan untuk sekali makan di kantin sekitar 400 – 600 yen. Selain kantin kampus, konbini  dan supermarket yang berada di dekat kampus menyediakan lunch box (dalam bahasa jepang bento) dengan menu yang bervariasi dan harga sekitar 500 – 600 yen.

Salah satu hal menarik yang perlu diperhatikan selama kuliah di Tokyo Tech adalah banyaknya mahasiswa yang pulang larut malam karena berbagai aktifitas terutama seputar penelitian. Oleh karena itu, makan malam biasanya dilakukan juga di kantin kampus atau membeli bento dari supermarket. Untuk pembelian bento di supermarket pada jam-jam tertentu khususnya diatas jam 7 malam, biasanya harganya sudah dipotong hingga 50%. Dengan penjabaran ini, maka biaya makan sehari hari yang dibutuhkan sekitar 1.000 – 1.300 yen per hari atau sekitar 30.000 – 40.000 per bulan atau sekitar 27-29% dari uang beasiswa.

Melalui gambaran diatas maka daapat dilihat sekitar 50% dari beasiswa sudah dipakai untuk memenuhi kebutuhan dasar tiap bulannya. Hal ini tentunya belum termasuk dengan aktifitas lainnya seperti jalan-jalan, belanja pakaian (jaket musim gugur, musim dingin), hangout, lab trip, dll. Untuk hal ini, penulis biasanya memberikan maksimal 15% (bukan berarti harus dihabiskan 15% setiap bulan, tetapi tergantung kebutuhan).

  • Biaya hidup mahasiwa master tahun kedua

Salah satu hal yang menarik sebagai mahasiswa khususnya di Tokyo Tech adalah pemberian batas tinggal maksimal satu tahun di asrama. Oleh karena itu, mahasiswa wajib melapor satu bulan sebelum keluar asrama dan mulai mencari apato. Mencari apato di Tokyo merupakan suatu seni tersendiri dan membutuhkan waktu. Pada umumnya mencari apato dapat dilakukan melalui internet dengan membuka situs seperti, suumo, homes, century123, able, dll. Cara kedua adalah dengan mendatangi secara langsung kantor agen penyedia apato.

Banyaknya pilihan seperti lokasi, harga, luas kamar, dan jarak tempuh dalam mencari apato menjadi tantangan tersendiri bagi para mahasiswa. Pengalaman penulis sendiri berdasarkan kondisi bahwa tahun kedua sebagai mahasiswa master adalah tahun yang penuh dengan penelitian dan tugas kuliah. Hal ini menjadi pertimbangan utama untuk mencari lokasi apato yang dekat dengan kampus dan bisa diakses dengan berjalan kaki atau bersepeda. Dengan kondisi ini, harga sewa apato yang lebih mahal menjadi konsekuensi yang harus diterima. Untuk mengatasi permasalahan ini, maka mencari teman untuk sewa apato bersama menjadi salah satu opsi untuk melakukan penghematan.

Di tahun kedua ini, penulis dan seorang temannya menyewa apato yang berlokasi dekat kampus dan hanya membutuhkan waktu 15 menit jalan kaki menuju kampus. Biaya sewa per bulannya adalah 75.000 yen (2 kamar, dapur, toilet, kamar mandi dengan luas 33m2), akan tetapi di awal kontrak sewa apato dibutuhkan total biaya sebesar 300.000 yen yang terdiri dari: uang deposit, uang kunci, uang terimakasih untuk agen, dan uang jaminan yang masing-masing sejumlah 1x biaya sewa apato. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus karena pada umumnya setiap melakukan pindahan akan dikenakan sejumlah biaya diawal berkisar 3-5 kali uang sewa. Biaya yang besar ini cukup menguras keuangan diawal tahun kedua, oleh karena ini kenikmatan yang diperoleh semasa tinggal di asrama sangat membantu untuk mengatasi hal ini. Biaya sewa apato dan biaya listik, air, dan gas yang dikeluarkan masing-masing  35.000 yen dan 10.000 yen atau sekitar 30% dari uang beasiswa.

Selanjutnya, dengan tinggal di dekat kampus maka biaya transportasi ke kampus bisa dihilangkan. Untuk biaya kebutuhan makan sehari hari kurang lebih hampir sama dengan di tahun pertama sekitar 30%. Demikian juga untuk biaya lain-lain, penulis memberikan batasan sekitar 15% setiap bulannya. Total biaya yang dikeluarkan setiap bulannya adalah sekitar 70-75% dari uang beasiswa.

  • Pengoptimalan uang beasiswa

Pada sub bab sebelumnya, telah dijabarkan berbagai pengeluaran rutin dan tidak tidak rutin setiap bulannya. Pengoptimalan uang beasiswa dapat dilakukan pada bagian yang tidak rutin, seperti biaya hiburan dan rekreasi. Sebagai contoh, memanfaatkan ‘one day pass ticket’ untuk keliling kota Tokyo di akhir pekan akan sangat menghemat ongkos kereta. Rekreasi singkat menikmati alam sambil melepas penat setelah berhari hari bekerja menyelesaikan penelitian dapat dilakukan ditaman – taman dengan menikmati sebotol teh dan sebungkus roti tanpa harus pergi ke kafe yang pastinya akan menguras lebih dalam biaya tak terduga.

Untuk yang hobi fashion, awal musim panas adalah bagaikan surga karena hampir semua toko membuat potongan besar-besaran. Selain itu membeli pakaian menjelang pergantian musim adalah salah satu trik untuk mendapatkan harga yang terjangkau. Selain itu belanja online untuk membeli kebutuhan rutin bisa menjadi pilihan karena pada kondisi tertentu harga di toko online seperti amazon, rakuten, wish, aliexpress, dll bisa jauh lebih murah serta terkadang bebas ongkos kirim. Hal ini tentunya dapat menghemat pengeluaran ongkos kereta.

Museum adalah salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi dan beberapa museum memberikan tiket masuk gratis untuk mahasiswa dari beberapa universitas ternama. Mengunjungi museum dengan menggunakan ‘one day pass ticket’ memberikan bonus ganda karena bisa menghemat pengeluaran. Dengan kondisi ini, berdasarkan pengalaman penulis bahwa pengeluaran tidak rutin ini bisa ditekan sebesar 2-3%.

Hasil dan pembahasan

Biaya rutin yang dikeluarkan oleh penulis pada tahun pertama mengalami peningkatan di tahun kedua. Total biaya rutin yang dibutuhkan pada tahun pertama sekitar 50% dari total beasiswa. Nilai ini akan mengalami peningkatan di tahun kedua menjadi sekitar 60% dari total beasiswa. Peningkatan sebesar 10% ini tidak terlalu signifikan disebabkan pada tahun ke-dua penulis tinggal di apato dengan teman sehingga biaya sewanya dibagi dua dan lokasi apato yang dekat dengan kampus mengeliminasi biaya transportasi rutin. Sedangkan untuk biaya lain-lain sebesar 15% dari total beasiswa dapat diturunkan sekitar 2-3%. Dengan demikian rata-rata pengeluaran penulis selama 2 tahun menjalani kehidupan sebagai mahasiswa program master di Tokyo sekitar 60 – 70% dari total beasiswa.

Kesimpulan

Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang memiliki banyak peminat. Disisi lain jumlah beasiswa yang relatif sedikit dibandingkan beberapa beasiswa lain menjadi kekhawatiran tersendiri apakah jumlah tersebut bisa mencukupi kebutuhan hidup normal di Tokyo. Berdasarkan pengalaman penulis dapat disimpulkan bahwa jumlah beasiswa tersebut masih aman dengan total pengeluaran rutin mencapai sekitar 70% dari uang beasiswa.

Tentunya setiap mahasiswa mempunyai pertimbangan dan kebutuhan yang berbeda, akan tetapi semua yang ditulis disini merupakan data yang diperoleh berdasarkan pengalaman penulis menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Tokyo.

Referensi

[1] https://www.titech.ac.jp/english/graduate_school/support/dormitories/

Categories: Beasiswa

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s