Mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup di Tokyo bagi mahasiswa doctoral (S3) yang membawa keluarga

Penulis: Irwan Liapto Simanullang

Abstrak

Tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan sekolah pada jenjang doctoral (S3) di Tokyo pada umumnya memperoleh beasiswa dan sudah berkeluarga. Para mahasiswa S3 ini masih didominasi oleh mereka yang menerima beasiswa MEXT sebesar 148.000 yen per bulannya. Dengan jumlah sebesar itu, pengelolaan keuangan yang baik menjadi syarat mutlak untuk dapat mencukupi biaya hidup setiap bulannya. Berdasarkan pengalaman penulis, sekitar 95% dari uang beasiswa dipakai untuk memenuhi kebutuhan rutin. Pemasukan tambahan menjadi pilihan alternatif yang baik untuk lebih leluasa mengatur kondisi keuangan dalam rangka memperoleh dana darurat.

Kata kunci: beasiswa MEXT, keluarga, biaya hidup, mahasiswa doktoral.


Latar belakang

Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi merupakan impian banyak orang tanpa mengenal batasan usia. Tidak hanya di dalam negeri saja tetapi melanjutkan sekolah hingga keluar negeri merupakan impian banyak orang dengan berbagai macam alasan dan motivasi. Jepang adalah salah satu negara tujuan para mahasiswa untuk melanjutkan sekolah hingga jenjang doktoral (S3). Banyaknya universitas untuk program beasiswa dan statusnya sebagai salah satu negara maju di dunia menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang mau melanjutkan pendidikannya.

Tokyo Institute of Technology atau yang lebih dikenal dengan Tokyo Tech (dalam bahasa Jepang Tokodai) merupakan salah satu universitas yang paling diincar oleh mahasiswa dari Indonesia. Hingga tahun 2017 kurang lebih tercatat sekitar 180 mahasiswa Indonesia aktif dari jenjang sarjana (S1), master (S2) hingga S3. Beasiswa MEXT menjadi salah satu beasiswa yang paling banyak diterima oleh mahasiswa Indonesia. Jumlah mahasiswa Indonesia di Tokyo Tech bisa dibilang meningkat cukup signifikan semenjak tahun 2014 disebabkan karena masuknya mahasiswa melalui beasiswa LPDP.

Penulis sendiri merupakan penerima beasiswa MEXT untuk program S2 dan S3 dari tahun 2012 – 2017. Pada tulisan sebelumnya1, penulis sudah menceritakan bagaimana mengoptimalkan beasiswa MEXT untuk program S2. Jumlah beasiswa S3 yang diterima setiap bulannya adalah 148.000 yen atau lebih besar 1.000 yen dari beasiswa S2. Ditulisan sebelumnya, sudah disebutkan bahwa sekitar 70% dari uang beasiswa akan dipakai untuk kebutuhan rutin setiap bulannya. Dengan kondisi yang seperti ini ditambah dengan cukup banyaknya mahasiswa S3 yang sudah berkeluarga akan menjadi tantangan dalam mengelola keuangan.

Tujuan dari tulisan ini adalah membagikan pengalaman penulis dalam mengoptimalkan uang beasiswa pada saat sudah menikah dan membawa istri ke Jepang dalam memenuhi kebutuhan harian dan lainnya.

Methodologi

Setiap manusia mempunyai standar yang berbeda beda dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, tulisan ini didasari oleh pengalaman penulis dan istri yang hidup dari uang beasiswa selama di Jepang. Batasan yang dipakai pada tulisan ini bahwa semua biaya hidup harus menggunakan uang beasiswa tanpa mengambil uang tabungan yang ada di Indonesia. Lebih lanjut dibatasi oleh kondisi pada saat itu penulis dan istri belum mempunyai anak. Tentunya kondisi lajang, menikah (belum ada anak), dan menikah (sudah punya anak) akan sangat mempengaruhi tata kelola keuangan. Sebagai tambahan, selama istri di Jepang, penulis mempunyai pemasukan tambahan diluar beasiswa akan tetapi komponen itu tidak akan digunakan dalam pemenuhan kebutuhan pokok.

Analisa biaya hidup

  • Jadwal pemberian beasiswa MEXT 

Beasiswa MEXT adalah salah satu beasiswa yang rutin melakukan pengiriman uang ke rekening para mahasiswa setiap bulan. Pada umumnya uang beasiswa diberikan di minggu terakhir setiap bulannya (sekitar tanggal 23-26). Oleh karena itu, mahasiswa baru wajib membawa bekal uang pegangan selama satu bulan pertama sebelum beasiswa diterima.

Khususnya untuk mahasiswa Tokyo Tech, setiap penerima wajib mendatangi bagian International Student Support setiap bulan untuk menandatangi form beasiswa. Apabila mahasiswa tidak/lupa menandatangi beasiswa pada bulan itu maka beasiwa pada bulan itu akan hangus. Ada dua kali periode tanda tangan beasiswa. Sebagai contoh, untuk memperoleh beasiswa di bulan November (beasiswa diberikan tanggal 23 Nov), maka mahasiswa wajib tanda tangan dari tanggal 1-7 Nov. Apabila mahasiswa lupa tanda tangan pada periode tersebut, maka mahasiswa masih diberikan kesempatan tanda tangan dari tgl 8-30 Nov dengan konsekuensi beasiswa bulan Nov akan diterima pada pertengahan bulan Desember. Apabila mahasiswa lupa tanda tangan pada bulan itu, maka dipastikan mahasiswa tersebut tidak akan mendapat beasiswa di bulan itu. Hal ini merupakan kontrol dari pemberi beasiswa kepada para penerima beasiswa.

  • Kampus Tokyo Institute of Techology

Tokyo Tech mempunyai tiga lokasi kampus yang berbeda yaitu di Tokyo (Kampus Ookayama dan Tamachi) dan di Yokohama (Kampus Suzukakedai). Ookayama dan Suzukakedai adalah dua kampus utama Tokyo Tech. Lokasi kampus yang berada di dua wilayah yang berbeda ini memberikan pengaruh terhadap komponen biaya hidup terutama biaya sewa rumah.

Tokyo Tech tidak mempunyai asrama khusus untuk keluarga, akan tetapi terdapat asrama TIEC (Tokyo International Exchange Center) yang dikelola oleh JASSO (Japan Student Services Organization) yang berada di Odaiba. Yang mana asrama TIEC dihuni oleh mahasiswa Jepang dan Internasional dari berbagai universitas terutama yang ada di Tokyo. Harga sewa, akses dan biaya hidup di sekitar lokasi yang relatif mahal menjadikan TIEC tidak masuk dalam pilihan penulis. Berdasarkan hitungan penulis, sekitar 70% dari beasiswa habis terpakai untuk sewa rumah, listrik, gas, dan transportasi.

  • Pengeluaran rutin

Di tulisan sebelumnya sudah dijelaskan mengenai biaya hidup mahasiswa lajang yang sedang melanjutkan sekolah di Tokyo, khususnya Tokyo Tech. Pada tulisan ini, akan dijelaskan beberapa perbedaan kondisi yang dihadapi penulis pada saat tinggal sendiri dengan pada saat membawa istri. Beberapa pengeluaran rutin akan dijabarkan pada poin-poin berikut:

  • Lokasi dan harga sewa rumah (apato)

Berbeda dengan kondisi penulis yang sebelumnya dapat tinggal dekat kampus (area Tokyo), hal ini relatif sulit karena harga sewa apato yang relatif mahal. Oleh karena itu, penulis mencari rumah di daerah Kawasaki (wilayah Miyamae-ku dengan stasiun kereta terdekat adalah Saginuma Station).

Beberapa keuntungan tinggal di wilayah Miyamae-ku:

  • Harga sewa apato terjangkau dengan ukuran yang relatif luas.
  • Salah satu wilayah dengan jumlah penduduk Indonesia yang lumayan banyak (sekitar 70 keluarga yang didominasi oleh mahasiswa).
  • Jarak tempuh ke kedua kampus Tokyo Tech sekitar 30-40 menit karena lokasinya yang berada di antara Kampus Ookayama dan Kampus Suzukakedai.
  • Terdapat banyak supermarket murah yang menjadi idaman para istri.

Kekurangan tinggal didaerah Miyamae-ku:

  • Bentuk geografis Miyamae-ku yang berbukit bukit menjadi kendala untuk berjalan kaki.

Pada saat itu, penulis mendapat tawaran apato dari seorang teman Malaysia yang kebetulan akan pulang kenegaranya karena sudah selesai masa studinya. Keuntungan tambahan bagi penulis karena mendapatkan semua barang hibah (kulkas, meja makan, mesin cuci, TV, AC, dll) dari dia sehingga dapat menghilangkan biaya pembelian untuk barang-barang tersebut. Biaya sewa apato yang dikeluarkan penulis setiap bulannya adalah 55.000 yen dengan ukuran sekitar 39 m2. Sedangkan untuk biaya awal masuk apato sekitar 194.400 yen yang terdiri dari: uang deposit sebesar 55.000; uang sewa bulan pertama: 55.000 yen; uang agen: 55.000 dan uang asuransi kebakaran 15.000 yen dan pajak sebesar 8% dari total biaya. Harga ini relatif sangat murah apalagi uang deposit akan dikembalikan apabila kita pindah dari apato. Dengan demikian, sekitar 37% dari uang beasiswa digunakan untuk sewa apato.

“Pada umumnya rumah sewa hanya berisi AC dan lampu,” –Pengalaman Penulis-

  • Biaya listrik, air dan gas

Setelah dapat apato, maka kewajiban penghuni adalah membayar listrik, air, dan gas. Listrik dan gas rutin dibayar setiap bulannya sedangkan air dibayar per dua bulan. Biaya pembayaran air sudah termasuk dengan biaya pengelolaan air limbah. Rata-rata biaya air setiap dua bulan sekitar 5.000 – 6.000 yen atau sekitar 3.000 yen per bulannya. Demikian juga dengan biaya gas yang relatif stabil sepanjang tahun sekitar 3.000 – 4.000 setiap bulannya.

Sedangkan biaya listrik akan sangat bervariasi tergantung musim. Penyumbang terbesar dari biaya listrik adalah pemakaian AC (di Jepang AC bisa berfungsi sebagai pendingin di musim panas dan sebagai pemanas di musim dingin). Berdasarkan pengalaman penulis, April – Juni dan September – Oktober adalah kondisi dimana suhu udara sangat bersahabat sehingga tidak memerlukan pemakaian AC. Pada kondisi ini, biaya listrik sekitar 5.000 yen. Sedangkan pada musim gugur hingga musim dingin (November – Maret) pemakaian AC akan sangat naik secara signifikan dengan biaya listrik sekitar 15.000 yen per bulannya. Di musim panas sendiri (Juli – Agustus) akan terjadi kenaikan tetapi tidak signifikan karena pemakaian AC dapat diganti dengan kipas dan membuka jendela (kondisi udara Jepang yang relatif baik memungkinkan untuk menikmati angin sepoi-sepoi di sore hari). Pada kondisi ini, biaya listrik sekitar 8.000 yen. Dengan mengetahui beberapa hal tersebut, maka rata-rata biaya listrik setiap bulannya sekitar 10.000 yen.

Dengan demikian, total biaya pengeluaran listrik, air dan gas setiap bulannya sekitar 20.000 yen atau 13,5% dari uang beasiswa.

Tips penghematan

  1. Penggunaan AC sebagai heater pada musim dingin lebih hemat dibandingkan dengan pemanas listrik karena jangkauan pemanas listrik tidak terlalu luas.
  2. Penggunaan heater gas sangat efektif karena sangat cepat menaikkan suhu ruangan akan tetapi tidak semua apato mempunyai saluran gas untuk pemasangan heater gas. Ini dapat menghemat karena durasi pemakaian yang relatif singkat tetapi dapat memberikan kehangatan yang maksimal.
  3. Penggunaan heater ‘kerosin’, paling hemat karena bahan bakunya yang berupa ‘kerosin’ dapat dibeli di SPBU dengan harga sekitar 140 yen/liter. Tetapi ada beberapa kekurangannya seperti: banyak apato yang tidak mengijinkan penggunaan heater kerosin dan mengeluarkan aroma yang sangat kuat didalam ruangan.
  • Biaya asuransi dan internet

Setiap orang yang tinggal di Jepang secara resmi akan mendapatkan residence card (KTP) dan asuransi kesehatan. Ada kewajiban untuk membayar biaya asuransi kesehatan nasional setiap bulannya yang mana besarnya disesuaikan dengan jumlah pendapatan. Pada dasarnya beasiswa tidak tergolong kedalam pendapatan, sehingga biaya asuransinya akan diikutkan kedalam katagori tidak berpendapatan. Hal ini menyebabkan biaya asuransi untuk penulis dan istri hanya sekitar 1.500 yen.

Selama penulis dan istrinya tinggal di Jepang, pocket wifi menjadi andalan dalam memenuhi kebutuhan internet. Biaya yang dikeluarkan sebesar 4.500 yen untuk pocket wifi ditambah dengan paket internet di handphone  sebesar 2.300 yen.  Dengan demikian sekitar 8.500 yen atau 5,7% dari uang beasiswa.

Catatan Penting:

Hal wajib yang harus dilakukan pertama kali ketika membawa keluarga tinggal di Jepang adalah MENGURUS Residence Card & ASURANSI KESEHATANPengurusan KTP dan Asuransi kesehatan akan berlangsung cepat dan biasanya langsung jadi dan langsung bisa dipakai. Asuransi kesehatan ini membantu proses pembayaran apabila sakit dan pergi berobat ke RS atau klinik karena hanya membayar 30% dari total biaya.

  •  Biaya makan dan kebutuhan harian

Salah satu kebutuhan utama lainnya adalah kebutuhan akan makanan dan minuman. Layaknya keluarga normal pada umumnya, masak di rumah akan menghemat biaya pengeluaran. Keuntungan utama dari memasak adalah meningkat secara signifikannya kemampuan istri dalam mengolah berbagai jenis masakan dan mempertajam naluri belanja seorang istri dalam mencari dan membandingkan harga bahan makanan yang murah.

Seperti yang disebutkan diatas bahwa lokasi apato bisa berpengaruh terhadap tempat belanja sehari hari. Di sekitar lokasi tinggal penulis, lumayan banyak supermarket murah dan terkadang memberikan harga spesial pada hari Minggu. Belanja kebutuhan sehari hari secara online lewat Amazon akan sangat membantu dalam mengurangi biaya transportasi karena untuk wilayah Tokyo dan sekitarnya biasanya bebas ongkos kirim.

Selama tinggal dengan istri di Jepang, hampir setiap hari penulis membawa bekal makan siang (dalam Bahasa Jepang dikenal dengan istilah bento) ke kampus. Hal yang sangat wajar dilakukan di Jepang mulai dari SD sampai dengan bekerja di perusahaan masih banyak yang membawa bento. Dengan demikian, total biaya yang dikeluarkan untuk bagian  ini sekitar 40.000 yen atau sekitar 27% dari dana beasiswa.

Informasi:

  1. Harga ikan, daging ayam dan babi jauh lebih murah dibandingkan sapi.
  2. Harga sayur hijau lumayan mahal terutama pada musim dingin.
  3. Buah pisang adalah buah yang paling murah diantara semua buah meskipun hampir semua pisang tersebut impor dari negara lain.
  4. Harga beras ukuran 5kg mulai dari 1.600 yen.
  5. Pada umumnya harga yang tertera di label belum termasuk pajak sebesar 8%.
  6. Harga ikan akan di diskon hingga lebih dari 50% pada jam-jam tertentu (biasanya diatas jam 9 malam)
  7. Harga daging akan di diskon juga apabila mendekati tanggal kadaluarsa.
  8. Daging ayam dan sapi halal jauh lebih murah, mungkin karena kondisinya berupa daging beku.
  • Biaya transportasi

Biaya trasnportasi merupakan salah satu komponen rutin lainnya yang harus dikeluarkan setiap bulannya. Biaya commuter yang dikeluarkan penulis untuk pergi sehari-hari ke kampus sekitar 3.500 yen per bulan. Mengenai detail harga tiket commuter sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya1. Sedangkan biaya commuter istri untuk mengikuti berbagai kegiatan seperti belajar Bahasa Jepang dan Bible study sekitar 6.000 yen setiap bulannya. Diluar itu, biaya transportasi rutin lainnya adalah untuk pergi ke gereja setiap minggu sekitar 4.000 yen setiap bulannya. Total biaya yang dibutuhkan untuk transportasi sekitar 13.500 yen atau 9% dari uang beasiswa.

Informasi:

  1. Apabila penulis dan istri pergi ke suatu tempat yang berjarak hanya 1 stasiun kereta dari rumah, biasanya dilakukan dengan jalan kaki.
  2. Apabila sedang berpergian dan mau menuju ke tempat lain yang berjarak kurang dari 2 km biasanya dilakukan dengan jalan kaki.
  3. Kedua hal diatas berlaku disemua musim kecuali musim panas.
  • Pengeluaran lainnya

Berdasarkan informasi yang telah diuraikan mengenai pengeluaran rutin, maka sisa dari uang beasiswa tersebut akan digunakan untuk pengeluaran tidak rutin. Dapat dilihat bahwa total pengeluaran rutin sekitar 140.000 – 145.000 yen atau lebih dari 95% lebih dari dana beasiswa. Dengan kondisi ini, maka sisa uang tersebut digunakan untuk berberapa hal yang bersifat menghibur seperti jalan-jalan di Tokyo, Yokohama dan sekitarnya, dll.

Diskusi

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis sendiri dan tentunya setiap orang punya kondisi yang berbeda beda. Dari kondisi yang dijabarkan diatas, dapat digambarkan kalau beasiswa MEXT untuk mahasiswa S3 yang membawa keluarga bisa dibilang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari akan tetapi sangat sulit untuk menabung. Akan tetapi harus diketahui bahwa pengeluaran setiap bulannya sangat tergantung pada musim sehingga menabung pada musim yang pengeluaran rutin sedikit akan membantu nantinya pada musim yang membutuhkan biaya pengeluaran yang besar.

Berdasarkan pada situasi ini, penghasilan tambahan melalui kerja sambilan akan sangat membantu untuk menambah pemasukan terutama untuk menabung dan mempersiapkan dana darurat. Tentunya situasi ini sangat tergantung kepada kondisi masing-masing mahasiswa dalam mengatur waktu untuk penelitian, keluarga, dan kerja sambilan.

Kerja sambilan (part time)

Pada umumnya setiap mahasiswa dapat melakukan part time selama 28 jam per minggu berdasarkan aturan yang berlaku. Akan tetapi ada beberapa jenis beasiswa yang mensyaratkan setiap penerima beasiswa tidak boleh melakukan part time. Selain itu, ditulisan sebelumnya1 sudah disebutkan kalau ada beberapa pembimbing yang mempunyai projek penelitian dan terkadang mahasiswanya diikutsertakan dalam bagian itu dan mendapat bayaran atas partisipasi.

Penulis sendiri melakukan part time sebagai salah satu pengajar di lembaga bahasa. Biasanya jadwalnya dilakukan di malam hari (18.00 – 21.00) dan di akhir pekan kecuali hari Minggu sehingga tidak mengganggu jadwal penelitian. Pemasukan tambahan inilah yang sangat membantu untuk dapat memenuhi kebutuhan tidak rutin.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hampir 95% dari beasiswa MEXT akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari mahasiswa yang membawa istri ke Tokyo.

Informasi tambahan

Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan sebelum memutuskan untuk membawa serta istri/keluarga:

  • Rencana keuangan yang matang (pemasukaan vs pengeluaran) berdasarkan standar hidup masing-masing.
  • Mencari informasi dari teman yang sedang mengambil kuliah di kota yang sama terutama.
  • Posisikan diri pada kondisi dimana pemasukan hanya berasal dari beasiswa.
  • Ceritakan gambaran kehidupan mulai dari pengeluaran rutin dll berdasarkan informasi yang diterima kepada keluarga, khususnya istri/suami.
  • Tenangkan pikiran dan berdoa kepada Tuhan.

Ceritakan setiap rencana dan kekhawatiran atas apa yang direncanakan kepada Tuhan. Langkah-langkah ini adalah berdasarkan pengalaman penulis dimana pada saat hendak membawa istri ke Jepang, penulis dalam kondisi tidak sedang mempunyai penghasilan tambahan hingga H-30 hari istri datang ke Jepang. Akan tetapi, sekitar H-14 hari ada informasi lowongan part time yang mana informasi itu diperoleh dari teman penulis. Dan setelah mengikuti rangkaian tes dan wawancara, akhirnya penulis diterima bekerja part time di tempat tersebut dan itu dimulai H+4 setelah istri tiba di Jepang.

Seperti pada tulisan sebelumnya2, manusia adalah mahkluk sosial yang tidak bisa hidup seorang diri maka penulis juga menceritakan rencana dan situasi penulis ke teman penulis. Penulis selalu percaya bahwa Tuhan selalu bekerja dan bisa memakai siapa saja untuk menjawab doa setiap manusia. Dan untuk bagian ini, penulis percaya bahwa Tuhan menjawab doa penulis melalui teman penulis.

Inilah yang sering kita sebut dalam bahasa sehari hari dengan “rezekinya istri”.

Referensi

[1] Optimasi pemanfaatan beasiswa MEXT untuk pemenuhan kebutuhan hidup mahasiswa baru di Tokyo, LIAPTO BLOG – Berbagi Cerita Volume 1 (2018) 001-007.

[2] Peran aktif teman penulis dalam proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech, LIAPTO BLOG – Berbagi Cerita Volume 1 (2018) 008-013.

Categories: Beasiswa

3 replies

  1. Semoga semakin banyak orang Indoñesia yg pintar bisa kuliah di Jepang dan bisa mengelola keuangannya baik, supaya tidak terkendala kuliahnya.

    Mahasiswa yg sudah berkeluarga membawa istri, sebaiknya mereka bisa mengatur waktu belajar dan waktu untuk keluarga, apabila terlambat kuliahnya tidak sesuai dengan target, maka akan terjadi delema.

    Slmt buat ananda Liapto yg begitu gigi sampai selesai S3 dengan tepat waktu. Smg sukses kerjaannya begitu juga dalam membina keluarga. GBU

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s