How I met your mother (4)

Sebelumnya di:

Episode 3: Membuka Diri

Episode 4: Waktunya kurang tepat.

Dari bulan Februari hingga akhir Maret 2010 adalah masa krusial dalam perkuliahan saya. Hampir setiap hari saya habiskan di laboratorium komputasi kampus untuk mengerjakan skripsi. Selain itu saya masih tetap harus mengikuti kelas bahasa inggris setiap hari Selasa dan Kamis sore dan beberapa kegiatan lainnya.

Kegiatan tersebut tentunya menguras tenaga dan pikiran. Refresing adalah salah satu hal yang bisa menyegarkan kembali pikiran saya.

Hal yang biasa saya lakukan untuk meyegarakan pikiran adalah berkunjung ke Plaza Ambarukmo Mall. Masuk ke bagian Gramedia sambil mencari buku sejarah dunia (terutama yang berhubungan dengan Perang Dunia). Biasanya mencari buku yang sudah di buka plastiknya, jadi bisa dibaca disana.Hehehe.

“Planet Bumi”

Kehidupan saya selama bulan-bulan ini membuat saya seolah-olah sedang tidak berada di Planet Bumi.

Di lain hari, ada sms masuk dari Andi. “Coi, kau di kos? Awak otw kesana ya.” Hemmm, sms belum dibalas, dia udah nyampe di depan kos. Yoweslah, makan malam ajalah dulu kita di pecel lele depan kehutanan (Fakultas Kehutanan UGM), begitulah saya menyambutnya di depan pintu kos.

Kedatangan Andi tentunya tidak dengan tangan kosong. Pasti ada informasi yang mau diceritakannya. Ada banyak hal dari mulai A sampai Z yang diceritakan, seolah-olah saya beneran sudah menghilang dari Planet Bumi selama dua bulan sehingga tidak tahu informasi apapun. Dari semuanya itu, ada satu cerita yang menarik perhatian saya.

Kira-kira begini percakapan singkat kami:

A: Cui, teman-teman ELTI berpikiran kau sombong loh, soalnya gak pernah gabung kalau ada kumpul-kumpul.

I: Hahhh? Emang ada kalian kumpul-kumpul? Siapa aja?

A: Ada cui dan udah beberapa kali nongkrong bareng. Terus mau gak kau ikut Fun Walk ELTI nanti?

I: Nanti kalau awak ikut jadi gak fun lagi..hahaha (dan akhirnya saya pun tidak ikut acara tersebut). Tapi kau kan tahu kalau awak lagi sibuk ngerjain skripsi. Ngejar deadline coi.

A: Yoi, makanya tenang aja kau. Udah kujelaskan itu sama mereka jadi aman aja.

I: Yowes, ntar kalau ada rencana makan-makan kabarin lah coi.

Begitulah kira-kira percakapan singkat kami saat itu.

Saya tidak tahu kalau mereka sudah begitu akrab satu sama lainnya. Saya sendiri pada awalnya tidak terpikir bakal bisa berhubungan dekat dengan mereka.

bersambung …

Episode 5: Terpesona


  • Seiring dengan berjalannya waktu, mereka-mereka inilah yang nantinya akan membantu saya dalam proses-proses menggapai mimpi untuk bersekolah ke Jepang. Peran aktif teman dalam proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech
  • Tidak banyak teman dekat saya sewaktu di kuliah, Andi adalah salah satunya dan dia juga yang banyak membantu saya bahkan hingga saat ini.

Categories: Cerita seri, Kenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s