Berjalan bersama Henokh

11 Februari 2020 “Foundation Day”

Sejak berada di Jepang, saya sepertinya kurang memperhatikan kalender. Maklum, selama 5 tahun menjadi mahasiswa di Jepang, hampir setiap hari saya masuk ke kampus tanpa mengenal yang namanya weekend. Apakah terpaksa? Tentu tidak.

“Profesor pembimbing saya memberikan muridnya kebebasan untuk mengatur waktu asalkan bertanggung jawab dengan penelitiannya.”

Hal ini pun terbawa ketika di dunia kerja bedanya saya memilih untuk tidak masuk pada hari Sabtu dan Minggu.

“Salah satu keuntungan menurut saya bekerja di bidang penelitian adalah waktu kerja yang sangat fleksibel.”

Saya pun terkadang tidak begitu memperhatikan hari-hari libur di kalender. Tanggal 11 Februari (Selasa) pun saya tidak tahu kalau hari itu adalah hari libur. Saya baru sadar ketika hari Jumatnya sedang berbicara dengan teman kerja dan dia berencana mengambil cuti di hari Senin.

There is No Special Plan

Karena memang kami tidak ada rencana mau pergi berwisata atau apapun, saya pun tetap masuk pada hari Seninnya.

Hari senin malam pun saya bertanya lagi ke istri mengenai ada atau tidaknya rencana jalan atau apalah untuk besok Selasa. Dan jawabannya tetap sama ‘Tidak ada rencana jalan-jalan’.

Selasa Pagi

Tetap tidak ada yang spesial, hanya membereskan kamar sebelah yang sudah mulai berantakan dipenuhi mainan dan perlengkapan Henokh yang sudah tidak dipakai lagi (maklum, perlengkapan anak bayi cepat sekali berganti seiring dengan bertambah besarnya Henokh).

Pagi itu pun kami habiskan dengan mengepak semua barang yang tidak dipakai dan memindahkannya ke gudang. Ruangan pun menjadi lebih luas dan Henokh bisa merangkak dengan leluasa untuk mengitari seluruh ruangan di rumah.

Menjelang Sore

Jam sudah menunjukkan pukul 15.10 JST dan semua pekerjaan rumah sudah beres. Cuaca yang cerah dan suhu udara yang hangat di musim dingin ini membuat kami memutuskan untuk pergi ke supermarket (namanya York Benimaru, dibaca “Yokubenimaru”).  Ini adalah supermarket terdekat setelah tutupnya Station Com.

Rencana awalnya hanya belanja sayur dan daging. Tapi entah mengapa kalau belanja sama istri rasa-rasanya seluruh bagian di dalam supermarket itu harus dikunjungi lebih dari satu kali (atau apakah hal ini cuma terjadi pada saya saja kah???) walaupun ujung-ujungnya gak dibeli juga.

Tentunya ada kesimpulan istri setelah menjelajah ruang dan waktu di dalam supermarket.

“Harga Sayur lebih murah di hari Selasa, sedangkan harga daging lebih mahal pada hari Selasa.”

Sambil menunggu istri membayar seluruh belanjaan ke mesin yang tersedia, saya dan henokh pun menunggu di bagian coffee & bakery sambil menikmati sepotong roti.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16:30, hal itu ditandai dengan bunyi lonceng yang terdengar diseluruh penjuru desa. Matahari yang masih bersinar membuat kami memutuskan untuk bermain sebentar ke taman yang ada diseberang York Benimaru.

Tujuan kami bermain ke taman adalah mengajak anak kami Henokh untuk belajar berjalan diluar rumah sekaligus memperkenalkan dia dengan sepatu. Ternyata di taman ada beberapa keluarga juga yang sedang mengajak anak-anaknya bermain.

“Salah satu hal dipikiran saya pada bulan April 2018 ketika baru pertama kali sampai di desa ini adalah, kalau nanti kami punya anak maka saya akan mengajaknya bermain di taman ini.”

Tidak butuh waktu lama untuk bermain di taman karena udara yang sudah mulai dingin dan matahari yang mulai tenggelam. Sekitar jam 5 sore kami pun pulang ke rumah.

“Terkadang liburan cukup diisi dengan hal yang sederhana namun bisa diingat selalu.”

Categories: Keluarga