‘Kafunsho’ Alergi Serbuk Bunga

Musim semi adalah salah satu musim terindah di Jepang (Musim di Jepang). Tentunya daya tarik utamanya adalah keindahan BUNGA SAKURA.

Tapi tunggu dulu, bagi sebagian besar orang yang sudah lama tinggal di Jepang, musim semi adalah musim terberat yang harus dilalui. KENAPA? Suhu udara yang sudah mulai hangat setelah melewati musim dingin adalah waktu yang tepat untuk tumbuhan kembali bermekaran. Nahhh, disini letak permasalahannya.

Ternyata, ada sebagain besar orang yang alergi terhadap serbuk bunga yang bertebaran di sepanjang musim semi.

Kafunsho (Hay Fever) atau alergi serbuk bunga adalah salah satu jenis alergi yang terjadi di penghujung musim dingin hingga musim semi (sekitar bulan Februari – April)”

Hahhh…. Alergi Serbuk Bunga????

Itulah anggapan remeh yang terlontar oleh saya di tahun 2013 ketika menikmati musim semi pertama di kota Tokyo.

Banyak orang yang saya temui saat itu memakai masker untuk menghindari kafunsho ini. Hidung meler dan mata yang terasa sangat gatal adalah dua ciri khas utama ketika kafunsho sudah menghampiri diri kita.

Sejak saat itu, setiap tahun di musim semi selalu saja banyak orang memakai masker bahkan ketika menikmati pemandangan bunga sakura.

Beberapa orang berpendapat bahwa setiap orang yang sudah lama tinggal di Jepang, besar kemungkinan akan terkena alergi serbuk bunga ini. Memakai masker di musim semi adalah salah satu cara menghindari atau memperlambat terkena alergi ini.

Musim Semi 2017

Musim ini adalah salah satu musim terberat selama menjalani studi doktoral. Cari kerja, ngerjain disertasi sambil penelitian, nulis jurnal, hingga kerja sambilan membuat tingkat stamina tubuh sedikit menurun.

Akhirnya kena juga

Disuatu hari di akhir Februari, saya masih seperti biasanya berangkat ke lab dengan kondisi bugar. Sore harinya ntah mengapa tiba-tiba hidung meler dan mata terasa gatal. Hidung meler masih bisa ditahan tetapi rasa gatal di mata ini tidak tertahankan. Mata saya sampai merah akibat dikucek-kucek untuk menghilangkan rasa gatal.

Apa saya kebanyakan di depan komputer ya? Atau mungkin debu masuk? Itulah yang terpikir di benak saya pada saat itu.

Saya pun membasuh mata di wastafel kemudian berbaring sebentar di ruang makan sambil mengenakan kacamata jel yang biasanya digunakan kalau mata kondisi mata lelah.

aHR0cHM6Ly9lY3M3LnRva29wZWRpYS5uZXQvaW1nL2NhY2hlLzcwMC9wcm9k

Kacamata Jel penghilang lelah, bisa dibeli di toko 100 yen.

Namun, rasa gatal di mata semakin menjadi jadi. Saya pun memutuskan untuk pulang kerumah. Pada saat itu, suhu badan mulai naik dan demam pun tidak terelakkan di malam harinya.

Demam, pilek, dan mata gatal. Kombinasi yang sangat menjengkelkan. Saya dan istri pun berjalan menuju toko obat (drug store) yang ada di dekat rumah untuk membeli obat tetes mata. Asumsi kami saat itu mungkin sekedar sakit mata biasa saja.

Bagaimana dengan obat demam dan pilek? Persediaan obat-obatan dari Indonesia masih bisa untuk mengatasi kedua hal itu.

Tetap saja, obat mata yang ditelah dibeli tidak memberikan efek apapun. Rasa gatal masih terus menyerang kedua mata.

Hingga larut malam, ntah kenapa tiba-tiba dada terasa sesak hingga sulit sekali untuk bernafas dengan hidung secara normal. Padahal pileknya tidak sampai yang menyumbat aliran hidung. Segala jenis balsem pun dioles dibagian dada untuk memberikan kelegaan pada saat bernafas walaupun tetap tidak optimal.

“Saat itu, saya belum paham kalau semuanya itu adalah gejala terkena kafunsho”.

Keesokan harinya, kami langsung bergegas menuju dokter mata. Takutnya ada yang salah dengan mata apalagi sudah dikucek-kucek hingga merah.

Sesampainya di klinik mata, dokter pun memeriksa kedua mata saya dan memberikan kesimpulan kalau saya terkena kafunsho. Dokter pun memberikan resep untuk ditebus di apotik.

Setelah memakai obat tetes mata, semprotan penghilang pilek, dan obat demam yang diberikan, seketika itu juga rasa gatal yang ada di mata mulai hilang dan hidung mulai berhenti mengeluaran cairannya.

“Suhu udara yang hangat, cerah ditambah angin yang berhembus adalah kombinasi yang sangat tidak baik bagi saya di musim semi karena alergi ini pasti akan menghampiri dengan cepat.”

pr190617_01

Obat penghilang pilek (Disemprot ke hidung).

1319752Q1024_000

Obat tetes mata.


Wahhh, apa yang dulu saya anggap remeh akhirnya menghampiri saya juga setelah 4 tahun tinggal di Jepang.

Sejak saat itu, setiap musim semi saya harus membawa obat tetes mata dan spray penyemprot hidung. Dengan dua obat tersebut, saya bisa beraktifitas normal.


 

Categories: Tentang Jepang

Tagged as:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s