Bahasa Inggris dan Beasiswa

Latar belakang

Sudah menjadi rahasia umum bahwa syarat utama untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri baik melalui program beasiswa maupun biaya sendiri adalah kemampuan berbahasa inggris.

Salah satu impian masa kecil saya adalah bisa mencicipi sekolah di luar negeri, khususnya dinegara maju seperti negara-negara di Eropa, Amerika dan Asia Timur. Secara khusus di negara yang mempunyai empat musim.

Akan tetapi, (mungkin) sama seperti kebanyakan orang, Bahasa Inggris adalah momok yang menakutkan bagi saya. Walaupun dari kecil sudah belajar di sekolah maupun bimbingan les, entah kenapa kemampuan bahasa inggris ini seperti tidak mengalami kemajuan yang berarti.

Tapi hal ini tetap tidak mematahkan semangat saya untuk terus bermimpi dan berjanji pada diri sendiri bahwa suatu saat nanti saya akan pergi keluar negeri untuk sekolah. Mimpi itulah yang selalu membuat saya tetap berusaha mempelajari bahasa inggris.

Kuliah 2006

Setelah dinyatakan lolos masuk ke Teknik Nuklir di Universitas Gadjah Mada (UGM), ada beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum memulai perkuliahan di pertengahan bulan Agustus. Salah satu tahapannya adalah mengikuti tes TOEFL yang diadakan UGM sekitar bulan Juli awal. Apabila nilai TOEFL yang diperoleh pada saat tes lebih dari atau sama dengan 500, maka tidak perlu mengambil mata kuliah bahasa inggris (2 sks) dan langsung mendapat nilai A.

Tawaran yang sangat menarik, bukan??? Hemmm… bagi saya yang sudah sadar akan kemampuan bahasa inggris saya, seperti “mission impossible” untuk mencapai angka itu. Dan terbukti, pada saat hasil tes keluar, nilai yang saya peroleh jelas jauh dari angka 500. Alhasil, saya pun harus mengambil mata kuliah bahasa inggris di semester pertama.

Singkat cerita, sampailah kita di penghujung semester pertama. Dan  ternyata nilai ujian bahasa inggris saya dapat C. (Yap, tidak terlalu mengecewakan karena saya sadar diri akan kemampuan bahasa saya). Apakah saya ada berencana untuk mengulang agar nilainya menjadi bagus? Hemmm… tentu tidak. Saya merasa cukup dengan apa yang saya dapatkan.

Penghujung Kuliah 2009

Selama tiga tahun saya berkuliah di Teknik Nuklir, hampir semua buku teori tentang kenukliran maupun mata kuliah lainnya berbasis bahasa Inggris. Di sepanjang tiga tahun itulah terkadang saya menghabiskan malam hari dengan membaca buku-buku tersebut. Lancar??? Tentu tidak. Belum adanya google translate di handphone serta konektivitas internet yang masih mengandalkan Warung Internet, Warnet, membuat saya harus mencari arti kata yang sulit menggunakan kamus.

“Sekitar tahun 2006 – 2010, harga per jam di Warnet sekitar Rp. 3.000 – 4.000”

Hal-hal inilah yang menambah kosakata bahasa inggris saya khususnya untuk di dunia pernukliran.

2010

Semenjak tahun 2008, saya sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 terlebih dahulu daripada bekerja setelah lulus S1. Untuk memperoleh beasiswa ada dua syarat umum yang harus dilewati yaitu: Bahasa Inggris dan Nilai (IPK).

Sampai di akhir semester 7, saya tidak ada bermasalah dengan nilai minimum IPK yang dibutuhkan. Permasalahan saya masih tetap di nilai minimum TOEIC, TOEFL, IELTS, atau sejenisnyalah.

Strategi

Setiap orang pasti tahu akan kemampuan dirinya masing-masing dan saya juga paham akan kemampuan saya. Tahun 2010, saya memilih untuk fokus agar bisa menyelesaikan tugas akhir secepat mungkin, setelah itu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris sambil mencari pasangan hidup (bisa dicek disini ceritanya: Mengejar Cinta (1): Janji).

Menurut info yang saya peroleh dari kakak kelas yang pada saat itu sedang kuliah S2 di Korea, akan ada pembukaan beasiswa di akhir September. Info ini saya peroleh di awal tahun 2010.

Singkat cerita, akhirnya saya menyelesaikan tugas akhir di bulan April 2010. Nilai IPK minimum sudah aman. Saatnya berfokus ke Bahasa Inggris.

Target:

  • Sekolah di negara maju dan mempunyai 4 musim.
  • Bidang keilmuan: Teknik Nuklir dengan spesifikasi lebih kearah Fisika Reaktor.

Dengan menetapkan target, maka saya lebih mudah membidik negara mana yang akan dituju. Negara- negara tersebut adalah: Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Korea dan Jepang.

Kemampuan diri:

  • Secara akademis masih di dalam katagori normal.
  • Secara kemampuan bahasa, masuk dalam katagori lemah menuju buruk.

Dengan kondisi ini, maka saya dapat memetakan bahwa Amerika dan Eropa belum saatnya dicoba pada saat itu.

Pada saat itu, saya mendengar info dari beberapa kakak kelas bahwa untuk Asia, seperti Korea dan Jepang, masih menerima nilai TOEIC. Mereka pun mengatakan bahwa tes TOEIC jauh lebih mudah daripada TOEFL maupun IELTS. Selain mudah(menurut mereka), biaya tesnya pun relatif murah sekitar Rp.500.000.

Percobaan – 1

Berbekal bimbingan bahasa inggris, maka saya pun mengambil tes TOEIC pada bulan Mei 2010. Saya harus ke Jakarta untuk mengambil ujiannya. Maka berangkatlah saya dari Jogja selepas wisuda S1.

Saya sengaja tidak belajar untuk mengukur kemampuan bahasa saya sejauh ini. Hasilnya: sangat jauh dari nilai minumum yang dibutuhkan untuk daftar S2. Sungguh sangat jauh. Saya mengibaratkan kalau seandainya saya tidak punya motivasi penuh untuk lanjut S2, maka saya akan lebih memilih mundur ketika melihat skor TOEIC saya.

“Bagi mereka TOEIC itu mudah, namun bagi saya tetap saja masih sulit.

Percobaan – 2

Sekitar bulan Juli 2010 sudah ada pengumuman untuk pendaftaran beasiswa S2 di Korea (detailnya bisa dibaca di bagian “Tentang Penulis“). Batas akhir pengumpulan dokumen sekitar tanggal 26 atau 27 September 2010.

Setelah mengetahui hasil percobaan-1, maka saya melakukan evaluasi diri. Salah satunya dengan mengikuti bimbingan TOEFL yang diadakan oleh salah satu Fakultas di UGM (lupa lagi namanya). Selain itu, saya juga mengikuti preperation test yang diadakan oleh berbagai macam bimbingan bahasa di Jogja. Ditambahkan lagi buku-buku soal atau apapun yang berhungan dengan TOEFL dan sebangsanya saya beli dari gramedia atau pasar buku di dekat Pasar Bringharjo.

Hasil dari semua persiapan itu sudah menunjukkan tanda-tanda positif. Beberapa kali mengikuti preparation test ditambah dengan mengerjakan soal-soal dari buku, saya memperoleh nilai diatas nilai minimum untuk melamar S2.

Ada rasa kepercayaan diri yang tumbuh tapi disatu sisi masih ada sedikit keraguan didalam diri. ‘Apakah saya mampu?

Percobaan kedua ini dilakukan pada awal September. Saya pun harus kembali lagi ke Jakarta demi tes ini. Kali ini, nilai yang diperoleh meningkat tajam tapi belum bisa memenuhi nilai minimum yang dibutuhkan.

Rasa kesal, semua bercampur aduk melihat hasilnya. Tapi satu yang pasti, saya masih ada waktu kurang dari 2 minggu untuk melakukan satu kali lagi tes sebelum batas akhir pendaftaran.

Percobaan – 3

Setelah kembali ke Jogja dan waktu yang dibutuhkan kurang dari 2 minggu, maka tidak ada kata lain selain belajar, belajar dan belajar. Hampir sepanjang hari saya berada di dalam kamar untuk mempelajari bahasa inggris ini.  

Sekitar tanggal 20 September saya memutuskan untuk mengambil tes TOEIC lagi. Di dalam hati, saya berkata “Kali ini saya sudah siap.”

Saya pun kembali ke Jakarta. Kali ini ada satu teman baik saya yang mau ikut menemani ke Jakarta (Kisah ini mungkin akan bersinggungan dengan cerita ‘How I met your mother‘). Ditambah di Jakarta sudah ada Nilla yang mau menemani kami selama di Jakarta. Hal-hal seperti nongkrong bareng teman ini terkadang bisa membantu melupakan sejenak ujian yang ada di depan mata.

Ujian TOEIC pun berlangsung selama 2 jam. Setelah ujian selesai, perlu menunggu hasil sekirar 1 atau 2  jam (lupa lagi). Selama proses menunggu itu, entah kenapa saya lebih tenang.

15:00 WIB

Hasilnya pun keluar. Nilai saya cukup untuk memenuhi syarat minimum pendaftaran S2 ke Korea. Bahagia??? Pasti. Malamnya kami langsung kembali ke Jogja untuk mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan.

Saya pun dengan lega bisa melamar beasiswa ke Korea.

Desember 2010

Pengumuman penerima beasiswa pun keluar. Hasilnya, saya masih belum lolos seleksi tersebut. Kecewa pasti ada mengingat perjalanan panjang untuk memperoleh skor TOEIC tersebut.

Tapi saya tidak patah semangat, bukannya gagal itu hal yang biasa dilalui? Setidaknya saat itu saya tahu bagaimana rasanya gagal.

Setidaknya nilai saya sudah memenuhi nilai standard minumum lah. Itulah yang memberanikan saya untuk mendaftarkan beasiswa ke Jepang.

Salah satu hal yang membuat saya percaya diri ketika mendaftar program IGP-A di Tokyo Institute of Technology adalah adanya proses tanya jawab melalui email dengan calon profesor pembimbing mengenai bidang keilmuan yang ditekuni sebelum memasukkan berkas administrasi untuk pendaftaran beasiswa.

(Silahkan baca: Peran aktif teman dalam proses pendaftaran program IGP-A Tokyo Tech)

Percobaan – 4

Dengan bekal nilai TOEIC tahun 2010, saya melamar beasiswa ke Jepang pada tahun 2011. Beruntungnya, calon profesor pembimbing mau menerima nilai TOEIC tersebut. Disisi lain, meminta saya secara pribadi untuk meningkatkan skor TOEIC.

Karena pada saat itu saya sedang bekerja di Kalimantan, saya pun harus mengambil ijin cuti ke Jakarta demi meningkatkan nilai TOIEC ini. Hasilnya, bukannya meningkat malah skornya turun 10 poin.

Yaudahlah, saya daftar pakai skor yang tahun 2010 aja. Beruntung sekali karena pada akhirnya saya bisa memperoleh beasiswa untuk lanjut kuliah untuk program Master dan Doktoral.

Percobaan – 5

Saya masih merasa punya utang janji dengan Profesor saya mengenai skor TOEIC. Disisi lain, saya memang merasa kalau skor minimum saja tidak baik untuk kedepannya terutama untuk syarat lulus doktoral.

Agustus 2013.

Setelah hampir satu tahun di Jepang sejak September 2012, saya pun pulang menghabiskan waktu libur musim panas di Indonesia. Tujuan utama saya adalah kembali mencoba tes TOEIC.

Saya pun singgah ke Jakarta untuk mengikuti tes TOEIC. Hasil ujian kali ini, saya memperoleh nilai yang cukup tinggi bahkan diluar ekspektasi saya. Skor maksimal bisa saya peroleh pada bagian listening.

Skor TOEIC terbaru ini saya berikan kepada pembimbing untuk database dan keperluan administrasi pada saat melanjutkan ke program doktoral.

Kesimpulan

Saya punya cita-cita sejak kecil untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri, tetapi bahasa inggris merupakan “halangan” bagi saya. Ada dua pilihan yang harus dilakukan: berbelok meninggalkan “halangan” tersebut atau memilih maju menghadapinya.

Saya memilih untuk maju menghadapinya. Butuh pengorbanan tentunya, bagi saya uang dan waktu adalah harga yang harus dibayar demi hal itu.

Bagaimana meningkatkan kemampuan bahasa inggris (versi saya):

Ada beberapa hal yang saya lakukan selama satu tahun di Jepang:

  • Belajar sendiri dari internet dan buku terutama pada bagian grammar.
  • Menonton film hampir saya lakukan setiap hari sepulang kuliah. Film yang saya tonton biasanya drama serial. Film favorit saya waktu itu: The Walking Dead dan The Revolution.

Semoga bisa bermanfaat bagi mereka yang sedang berusaha mencari beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri.


Mau sekolah ke luar negeri? Pintar aja tidak cukup butuh mental yang kuat. -Irwan

Categories: Beasiswa, Kehidupan Kampus

2 replies

Leave a Reply to Irwan Simanullang Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s