Terbang bersama Henokh: Tokyo-Jogja

Musim Panas 2019

Liburan musim panas ini, kami memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Tantangan utamanya adalah membawa Henokh yang masih berusia sekitar 4 bulan.

Bukan perkara mudah apalagi tidak ada pesawat langsung dari Tokyo menuju ke Jogja.

Mencari maskapai penerbangan

Beberapa kriteria kami ketika mencari maskapai penerbangan:

  • Pesawat malam. Asumsi kami, Henokh nantinya bisa tidur di pesawat.
  • Waktu transit yang tidak terlalu cepat atau lama. Estimasi kami sekitar 3 jam cukup untuk beristirahat, mengganti popok, makan, dll.
  • Harga yang masuk akal. Murah dan mahal itu sangatlah relatif.

Hasilnya jatuh pada maskapai Air Asia dengan rute Haneda-Kuala Lumpur-Yogyakarta. Disini kami menggunakan tambahan paket Premium Flex.

Alasan kami menggunakan Premium Flex: supaya bisa memilih tempat duduk khususnya yang ada bassinet untuk bayi dan memperoleh akses Lounge di bandara KLIA2. Lumayanlah untuk Henokh bisa rebahan setelah perjalanan panjang.

Hari Keberangkatan

Desa Tokai – Bandara Haneda

Ada tiga pilihan menggunakan transportasi umum dari Tokai menuju Bandara (Baik Haneda maupun Narita).

  1. Bus Airport Limousine. Harga Tiket sekitar 4.000 yen. Sebagai Desa Nuklir, tentunya banyak orang asing dari berbagai negara berkunjung kesini. Oleh karena, disediakan bus langsung dari dan ke bandara. Jadwal bus dari Tokai ke Bandara Haneda hanya tersedia di pagi hari mulai dari pukul 3:19 JST hingga 8:36 JST.

    Baca juga: Sabtu Ceria di Desa Nuklir


  2. Kereta Hitachi Express. Harga Tiket sekitar 4.000 yen. Akan tetapi, kereta ini tidak langsung menuju bandara Haneda. Perlu transit untuk mengganti kereta di Stasiun Shinagawa.
  3. Kereta Joban Line (Lokal). Harga Tiket sekitar 2.800 yen.

Bus dan kereta lokal membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 – 3.5 jam, sedangkan kereta Hitachi express memakan waktu sekitar 2.5 jam.

Rencana Awal

Rencana awalnya adalah berangkat menggunakan bus pukul 8:36 JST. Kemudian menunggu kurang lebih 10 jam di bandara. Tidak ada rencana berwisata ke sekitar Tokyo mengingat Henokh masih kecil dan takutnya kelelahan di perjalanan.

Tapi rencana berubah dan kami memilih menggunakan Hitachi Express. Berangkat pukul 4:40 JST dari Stasiun Tokai.

“Stasiun Tokai (4:40) — Stasiun Shinagawa (6:23) — Bandara Haneda (6:51)”

Pertimbangannya tentu agar Henokh tidak terlalu lama menuggu di bandara.

Salah prediksi

Secara waktu tentunya naik kereta express akan mempersingkat waktu. TAPI ADA YANG TIDAK KAMI PERHITUNGKAN.

Kereta Hitachi express didesain untuk perjalanan antar kota terutama bagi mereka yang melakukan perjalanan bisnis atau mereka yang traveling dengan barang bawaan yang sedikit.

“Tidak ada tempat (kabin) untuk koper ukuran besar. Hanya ada kabin yang bisa menampung koper kecil atau tas punggung.”

Alhasil, kami sempit-sempitan menjejerkan dua buah koper di sela-sela kursi.

IMG_8824

Suasana di dalam kereta Hitachi Express.

Setibanya di Stasiun Shinagawa, kami hanya ada waktu 10 menit untuk ganti kereta. Tentu waktunya tidak cukup dengan kondisi kami membawa bayi dan 2 koper besar.

Karena kami sudah cukup familiar dengan stasiun ini, maka kami sedikit santai dan menunggu kereta berikutnya. Waktu tunggu inilah kami manfaatkan untuk mengganti popok Henokh.

“Kelebihan negara Jepang, hampir di semua tempat umum apalagi stasiun sangat ramah dengan toilet untuk yang berkebutuhan khusus maupun untuk bayi.”

Rush Hour

Ya, seperti yang sudah kami bayangkan bahwa jam 6 keatas adalah jam sibuk dan banyak orang yang berlalu lalang di dalam stasiun.  Ya ampun, pengguna kereta yang menuju bandara pun sangat ramai. Kami sampai tidak kebagian tempat duduk. 

Berhimpit-himpitan sepanjang perjalanan tapi syukurlah Henokh tidak menangis sepanjang perjalanan. Baju kami sudah basah kuyup mengingat akhir Juli suhu udara di Tokyo sangat panas ditambah kelembapan udara yang tinggi.

Bagi mereka yang gampang keringatan dan tidak suka memakai baju yang sudah basah dianjurkan untuk selalu menyediakan pakaian ganti.”

Bandara Haneda

Mengingat sudah memasuki jam makan malam, kami mencoba menikmati makan ramen yang ada di salah satu sudut bandara dekat seven elevent.

“Harga ramennya masih wajar di kisaran 900 – 1.500 yen”

Counter Air Asia biasanya mulai dibuka sekitar pukul 20:00 (atau 20:30, maaf lupa).

Selanjutnya, kami pun memutuskan untuk langsung masuk ke ruang tunggu. Tentunya perlu melewati proses pemeriksaan dan imigrasi. Nah, karena Laura menggendong Henokh maka dia mendapatkan prioritas sehingga tidak perlu mengantri.

Karena saya suaminya dan membawa barang, maka saya ikut dalam rombongan yang mengantri. Hahaha. Kemudahan hanya untuk sang ibu aja di bagian ini.

“Entah kenapa gate untuk Air Asia selalu di gate yang paling ujung.”

Kemudahan lain yang juga kami dapatkan adalah ketika hendak memasuki pesawat. Kami diberi kesempatan untuk masuk lebih dahulu ke dalam pesawat dibandingkan dengan penumpang lainnya.

Hal ini tentunya memudahkan saya untuk bermanuver dalam mengatur semua barang bawaan (koper kecil, tas pungung, tas pinggang, botol susu Henokh, dll).

” Kerjasama antar suami dan istri sangat dibutuhkan.”

IMG_8833

Ruang ganti popok dan menyusui di bandara Haneda, Tokyo.

Tokyo – Kuala Lumpur (KL)

Penerbangan ini membutuhkan waktu sekitar 7 jam. Artinya kami akan tiba di KL sekitar pukul 6 pagi (jangan lupa ada perbedaan waktu). 

Penerbangannya berjalan lancar tanpa ada turbulensi. Henokh pun tetap tenang walaupun terkadang bangun dan menangis untuk sekedar mau minum susu. 

Nah, bassinet yang sudah kami pesan ternyata tidak terpakai karena Henokh tidak terbiasa tidur di dalam keranjang. Alhasil, bassinetnya kami pergunakan sebagai tempat ganti popok. 

Laura tidak bisa tidur dengan nyenyak sepanjang perjalanan karena ini pengalaman pertama membawa bayi ikut terbang. Takut Henokhnya jatuh saat dipangku dsb. Sedangkan saya, ada kesempatan untuk sekedar tidur ayam.

Transit di Lounge Air Asia

Bandara KLIA2 sangat bersahabat terutama untuk kami yang membawa bayi dan mereka yang berkebutuhan khusus. Adanya buggy car membantu mempermudah proses transit.

Karena kami tiba sekitar jam 7 pagi, maka suasana lounge masih sepi. Tentunya ini sangat menguntungkan kami karena Henokh bisa dengan bebas rebahan dan suasana yang tidak berisik.

” 3 jam waktu yang ideal bagi kami untuk transit. Sarapan, mandi, ganti popok dan baju Henokh, serta sekedar jajan cemilan.”

Tukar uang kami lakukan di dalam bandara karena hanya menukar uang sekitar 2.000 yen.

KL – Jogja

Kondisi Henokh masih semangat karena belum ada tanda-tanda rewel sepanjang perjalanan ini. Penerbangan ini membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 jam. Untuk penerbangan ini kami memilih untuk duduk di kursi no 1 (paling depan).

“Penerbangan pagi pukul 9, tentunya ini bukan jam tidur Henokh.”

Di awal penerbangan cukup bersahabat apalagi ada pramugari yang terkadang bermain dengan Henokh. Senyuman maut Henokh sepertinya bisa meluluhkan hati pramugarinya. Hahaha

Ntah kenapa kali ini popok Henokh terasa lebih berat (banyak buang air kecil). Akhirnya suasana mulai berubah. Henokh mulai sedikit rewel tapi masih bisa diatasi dengan minum susu.
Turbulensi yang kadang terjadi membuat kami tidak berani untuk mengganti popoknya di toilet.

Disisi lain, rasa lapar karena tenaga Laura habis untuk menyusui membuat kami memesan makanan tambahan.

“Cemilan adalah hal wajib yang harus tersedia untuk ibu menyusui.”

Sudah jadi rahasia umum mengenai kepadatan arus lalu lintas udara di Jogja. Akibatnya kami harus mutar-mutar dulu di udara.

Suasana sudah semakin tidak kondusif karena Henokh sudah mulai bosan (mungkin pegal karena dipangku terus) lalu nangis sekuat tenaga. Tidak banyak yang bisa kami lakukan karena pesawat dalam posisi sudah mau mendarat dan tanda penggunaan sabuk pengaman sudah dinyalakan.

Penumpang yang disamping saya mungkin terganggu dengan tangisan Henokh, tapi dia berusaha untuk tetap senyum dan ramah. Beliau bersama rombongan lainnya adalah warga negara Malaysia yang akan mengikuti seminar di Jogja.

Akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna. Penumpang pun turun satu per satu dari pintu depan. Kami memilih untuk turun paling akhir supaya lebih santai.

“ooo.. ini bayi yang nangis tadi. Beberapa penumpang turun sampai berbisik bisik seperti itu.” Tentunya bukan dengan tatapan yang ramah.

Sambil senyum, saya berkata kepenumpang yang lewat “maaf ya sudah terganggu.”

Karena kondisi terminal kedatangan internasional di Bandara Adisucipto tidak tersedia toilet untuk ganti popok bayi, kami pun langsung keluar ke parkiran menjumpai tantenya Henokh yang sudah menunggu.

IMG_8862

Henokh tidur dengan nyenyak begitu diletakkan di kasur. (Lokasi: Rumah Ompung Jogja)

 


Apakah ada yang punya pengalaman membawa bayi dalam perjalanan jauh? Bagaimana cara orang tua mendiamkan bayi ketika rewel? Apakah ada penumpang lain yang secara langsung menegur orang tua bayi karena merasa terganggu?

Hal-hal ini tentunya akan menimbulkan pro dan kontra, bukan?

Bagi saya, ketika mau beli tiket pesawat bisa dilihat kan ya pilihan dewasa, anak-anak, bayi. Artinya, penumpang pesawat sudah paham bahwa ada kemungkinan minimal satu orang bayi akan ikut dalam penerbangan tersebut.

Orang tua (khususnya ibu) si bayi pastilah akan berusaha membuat bayinya tetap tenang selama perjalanan.

Kalaupun bayi tetap rewel, alangkah baiknya bagi penumpang yang merasa terganggu tidak mengeluarkan komentar negatif. Komentar positif bahkan sekedar senyuman saja sudah cukup memberikan energi positif kepada orangtua bayi tersebut.


 

Categories: Keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s