Misteri Ayam Belatung

Tidak terasa acara yang dilaksanakan di kota A selama seminggu ini akan berakhir. Hari ini adalah hari terakhir dan sorenya kami semua akan berpisah dan pulang ke kota masing-masing.

Rombongan Jogja

Kami menggunakan satu bus besar untuk menampung peserta dari Jogja. Karena jadwal berangkat bus sekitar jam 5 sore, maka dipastikan kami akan singgah untuk makan malam.

Tidak ada yang spesial kecuali jalanan yang lumayan padat ditambah sedikit gerimis di awal perjalanan. Suasana bus pun terasa tenang karena banyak peserta yang merasa lelah setelah seminggu penuh mengikuti kegiatan yang sangat menyenangkan.

Makan Malam

Tidak terasa kita sudah sampai disalah satu tempat peristirahatan. Sepertinya lokasi ini adalah tempat makan bagi pengguna jasa bus malam karena banyak bus dari berbagai daerah sedang berhenti.

“Setiap peserta mendapat subsidi makan malam sebesar Rp.15.000”

Walaupun sudah disubsidi, ntah kenapa beberapa dari kami masih berpikir kalau harga yang ditawarkan di tempat makan itu masih mahal.

“Oii, itu diseberang jalan ada warung makan. Mau coba makan disana aja?, ujar salah satu dari kami.”

Warung makan kecil di pinggir jalan yang hanya diterangi oleh lampu kecil yang memancarkan cahaya kekuningan tapi agar redup.

Menu yang disajikan pun standar seperti ayam goreng, tahu, tempe, telor dadar, dll. Ya, di Jogja banyak juga warung makan seperti ini dan kami pun sudah biasa untuk menyantap makanan seperti ini.

Sesampainya disana, ternyata ada juga beberapa orang dari rombongan kami yang baru saja menikmati makan malam.

Kami berenam memilih ayam goreng sebagai lauk utama ditambah sayuran.

Karena meja yang di dalam warung sudah penuh, kami memilih untuk menggunakan meja yang ada di luar warung.

Suasana makan diluar warung ini seperti suasana makan angkringan kalau di Jogja. Jadi kami sudah terbiasa dengan hal tersebut.

Kami menikmati makan tersebut sambil bercerita dan tak terasa kalau makanan kami hampir habis.

“Apaan nih? coba deh lihat, ujar salah satu dari kami.”

Dengan kondisi lampu yang remang-remang, kami melihat seekor belatung kecil dari daging ayam yang dipiring teman kami keluar.

Rasa penasaran muncul dan dengan penasaran teman kami ini membelah lagi daging ayam tersebut.

Busseeettttttttt…. Itu belatung pada keluar dan jumlahnya cukup banyak.”

Otomatis kami semua menghentikan proses makan memakan dan mendatangi penjual warung. Kami menjelaskan kejadiaannya dan si penjual tidak bisa berbuat apa-apa karena dia membeli daging ayam seperti biasanya.

Tapi diujung pembicaraan, kami tetap membayar makanan yang sudah kami makan.

Segera kami keluar dari sana dan menyebrang menuju ke bus. Sebelum masuk ke bus, saya menuju ke kamar mandi untuk mengeluarkan makanan yang sudah dimakan tadi. Tentu ada perasaan mual setelah peristiwa itu terjadi.

“Nasib kali bah makan ayam belatung malam ini.”

Kami berusaha menenangkan diri sebelum masuk ke bus sambil membeli cemilan yang dijajakan oleh toko oleh-oleh di area peristirahatan tersebut.

Jogja

Kami tiba di Jogja di pagi hari. Siang harinya saya dan teman makan bareng di warung padang dan tetap saja memilih menu daging ayam. Seperti saya menganggap kejadian malam itu hanya suatu hal yang kurang beruntung saja.

Tapii…

Teman saya nyeletuk..

 

“Yakin itu beneran warung?”

 

 

 

 

Categories: Lain-lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s