Terbang Bersama Henokh: Doloksanggul – Jakarta

Tidak terasa masa liburan akan segera berakhir dan Henokh harus kembali ke Jepang. Ini adalah salah satu perjalanan terlama di liburan musim panas 2019.

Untuk perjalanan pulang ke Jepang, kami memilih menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Alasan utamanya adalah harganya yang cukup bersahabat dengan kapasitas bagasi hingga 46 kg/orang. Secara total kami bisa memuat sekitar 110 kg (bagasi + kabin).

“Bahkan bagasi 100 kg pun terasa belum cukup buat mami Henokh.”

Perjalanan kali ini memiliki rute penerbangan: Kuala Namu – Soekarno Hatta – Haneda. 

Sebenarnya ada bandara Silangit yang lebih dekat dari Doloksanggul. Akan tetapi, jadwal penerbangannya tidak sesuai dengan jadwal kami.

Doloksanggul – Kuala Namu

Jadwal keberangkatan pesawat dari Kuala Namu menuju Soekarno Hatta sekitar jam 2 siang. Artinya kami harus berangkat paling lama jam 4.30 pagi dari Doloksanggul.

“Doloksanggul adalah ibukota dari kabupaten Humbang Hasundutan. Perjalanan dengan mobil memakan waktu sekitar 5-6 jam menuju Bandara kuala namu.”

Ini adalah perjalanan yang cukup menguras tenaga.

Kami meninggalkan kota Doloksanggul di pagi hari yang sepi sehingga perjalanan sangat lancar. Henokh dan maminya pun masih terlelap di sepanjang jalan. Sayangnya, saya tidak bisa langsung tidur sehingga hanya bisa memandang ke arah jalan.

Sekitar jam 7 pagi, kami tiba di kota Parapat (Danau Toba). Disini kami singgah untuk sarapan. Warung soto Medan menjadi pilihan yang tepat untuk mengisi perut. Selain itu harganya pun masih pas di kantong. 

“Pernah kami makan di salah satu rumah makan Padang di Parapat dan ketika bayar cukup kaget dengan harganya. Buat para pedagang di sekitar Danau Toba, cobalah buat harga di setiap menu makanan sehingga pengunjung tahu dan tidak terkejut.

Sekitar jam 07:30, kami pun melanjutkan perjalanan. Tidak ada kendala yang berarti selama perjalanan. Namun hujan lebat yang turun di kota Siantar sempat membuat arus lalu lintas sedikit terhambat.

Jalan tol Tebing Tinggi – Kuala Namu

Kami menggunakan jasa tol yang baru selesai di bangun untuk mempersingkat waktu tempuh menuju bandara. Benar saja, pilihan ini membuat kami bisa mempersingkat waktu tempuh sekitar satu jam.

Disepanjang ruas jalan tol, hampir tidak bisa ditemui rest area. Ada beberapa lokasi yang masih dalam tahap pembangunan ruas tol.

Selain itu, kondisi jalan tol yang hampir lurus sepanjang jalan menuju kuala namu adalah tantangan tersendiri untuk para pengemudi. Dipastikan rasa kantuk akan datang menyerang dengan kondisi jalan seperti itu. Pastikan pengemudi dalam kondisi fit dan menepilah untuk beristirahat di rest area atau sebelum memasuki jalan tol ketika merasa ngantuk.

“Biaya tol tebing tinggi – kuala namu sekitar Rp. 50.000 “

Bandara Kuala Namu

Akhirnya sekitar jam 12 siang kami tiba di bandara Kuala Namu.

Kami memanfaatkan total bagasi sebesar 96 kg dengan komposisi 2 koper besar, 1 tas ukurang sedang, dan dan 1 kontainer ukuran L.

Bagaimana nantinya membawa barang segitu banyak dari Bandara Haneda ke rumah? GAMPANG.  Karena saya sudah cukup familiar dengan kondisi bandara Haneda maka sangatlah mudah menurut saya. Semua bagasi nantinya tidak perlu dibawa sendiri dari bandara menuju rumah. Cukup menggunakan jasa pengiriman yang tersedia di bandara. Maka barang akan tiba di rumah keesokan harinya.

Setelah proses check in selesai, kami melanjutkan makan siang dan mengganti popok Henokh. Hanya ada sekitar 1.5 jam sebelum kami masuk ke ruang tunggu. Waktu yang cukup untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Bagaimana Dengan Henokh?

Perjalanan panjang dari Doloksanggul ke KualaNamu ternyata membuat Henokh terasa lelah. Nangis dan menyusui adalah hal yang bolak balik terjadi sepanjang perjalanan sejak dari Tebing Tinggi ke Kuala Namu.

Henokh sepertinya cukup bosan dengan kondisi dipangku dan digendong sepanjang perjalanan. Kami sebagai orangtuanya sudah paham betul hal ini. Naik mobil dari gereja ke rumah yang hanya 30 km aja Henokh bisa nangis karena bosan dipangku. Apalagi dari Doloksanggul ke Kuala Namu yang berjarak sekitar 230 km.

Kuala Namu – Soekarno Hatta

Penerbangan dengan pesawat Garuda Indonesia hari ini cukup ramai. Sepertinya hampir semua kursi di tiap kelas penuh. Beruntunglah kami yang bisa dapat kursi di barisan depan.

“Saat itu kami sudah tidak berharap banyak kalau Henokh akan duduk, tidur dan tenang selama penerbangan.”

Di barisan kami, ada seorang ibu yang baru saja selesai mengikuti seminar di Medan. Beliau dan rombongannya mau kembali ke Makasar.

Sejak awal, kita sudah minta maaf dulu apabila nanti Henokh nangis dan mengganggu istirahat beliau. Tapi beliau cukup baik hati dan pengertian. Ternyata beliau masih mempunyai hubungan saudara dengan salah satu teman saya (namanya Rama) dari Makasar yang sedang menempuh pendidikan di Tokyo Tech.


Baca juga:” 2 Days Trip” Gunung Fuji (Part 3/3)


“Kita sempat ambil foto bareng di pesawat. Kata beliau mau dikasih lihat ke Rama.”

Benar saja, Henokh sangat rewel di penerbangan ini. Dari awal hingga kami mendarat tangisan Henokh cukup membuat kami tidak bisa beristirahat selama penerbangan.

Maklum lah, ini adalah perjalanan 12 jam non-stop pertama buat Henokh.

Setibanya di bandara, kami langsung menuju penginapan yang masih berada disekitar wilayah bandara Soekarno Hatta.

Begitu sampai di penginapan, Henokh langsung direbahkan di atas kasur dan langsung terpancar senyum ceria Henokh. Tentunya suhu AC langsung diatur pada suhu minimum karena Henokh tidak tahan dengan suhu udara yang panas.

“Henokh, si bayi musim dingin.”

Dari awal kami memang memilih untuk bermalam di Jakarta sebelum melanjutkan penerbangan ke Tokyo.

Keluarga besar Henokh

Rasanya tidak sopan kalau mampir ke Jakarta tapi tidak mengabari keluarga dekat kami. Tapi, mengingat kondisi kami yang cukup lelah dan harus melanjutkan penerbangan jam 7 pagi di keesokan harinya, maka mereka bersepakat dan berbaik hati untuk datang mengunjungi kami di penginapan.

IMG_8982

Henokh dan Bulangnya. (Bulang artinya Kakek dalam bahasa Batak Karo).

“Terima kasih untuk Ompung, Uda, Inanguda, Tante, dan Bibi yang sudah mau mengunjungi Henokh. Semoga di lain waktu bisa bertemu lagi.”


Ternyata pilihan untuk bermalam di Jakarta sangat tepat menurut kami karena Henokh punya waktu untuk beristirahat yang cukup sebelum penerbangan panjang selanjutnya.

Categories: Cerita seri, Keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s