Saya takut tertular, lebih takut lagi kalau menularkannya.

Siapa sih yang saat ini tidak dalam kondisi yang khawatir atau waspada?

Saya dan Laura juga punya rasa khawatir akan kondisi saat ini. Tidak hanya memikirkan kondisi kami disini, tapi juga keadaan keluarga yang ada di Indonesia.

Saya sendiri tidak begitu mengikuti informasi perkembangan situasi tersebut, sedangkan Laura mengikuti berita tersebut setiap hari. Setiap pulang dari lab, selalu saja hal ini yang menjadi salah satu bahasan utamanya.

Hingga awal Maret kemarin muncul kasus pertama di Ibaraki dan sejak bulan Maret sudah ada beberapa kali e-mail dari kantor yang memberikan himbauan untuk melakukan tindakan pencegahan seperti tidak melakukan perjalanan dinas kalau tidak terlalu penting, menghindari keramaian, mencuci tangan, dll. Hal ini sepertinya dilakukan berulang-ulang untuk mengingatkan dan menginformasikan kondisi terbaru.

“Mari memikirkan tidak hanya diri sendiri tetapi keluarga dan rekan kerja”. Kalimat di akhir email tersebut.

Membaca situasi seperti ini, saya mendiskusikan hal ini kepada Laura sekitar minggu akhir Maret.

Tulisan ini adalah cara pandang yang saya ungkapkan sewaktu diskusi dengan Laura mengenai kondisi saat ini.

Skenario terburuk

Entahlah ini terpengaruh dengan apa yang saya pelajari selama ini di bidang Nuklir terutama mengenai kecelakaan nuklir, tapi saya berusaha berpikir apa skenario terburuk yang bisa terjadi.

  • Saat ini, sulit menyatakan bahwa kondisi bahwa benar-benar 100% bebas dari virus tanpa melalui pemeriksaan medis.
  • Di tempat kerja sudah ada himbauan seperti yang telah saya tuliskan diatas.

Dengan kondisi seperti ini, saya tidak bisa menyatakan secara sepihak kalau diri saya sendiri terbebas dari paparan virus ini.

Untuk kondisi terburuknya, SAYA MENGASUMSIKAN BAHWA DIRI SAYA TERPAPAR TAPI TIDAK (BELUM) ADA GEJALA YANG TERLIHAT.

Disini, saya mengajak Laura melihat dampak yang bisa ditimbulkan ke orang lain dengan menggunakan asumsi terburuk.

Contoh: Sudah ada himbauan dari pemerintah atau/dan dari kantor tapi karena tidak saya anggap serius akhirnya saya memutuskan untuk berpergian ke suatu tempat (melihat sakura, kumpul-kumpul, dll).

Apa yang terjadi ketika saya pergi ke suatu tempat keramaian atau perkumpulan dengan menggunakan asumsi terburuk yang telah saya tuliskan diatas?

  1. Saya akan pergi ke tempat tersebut dengan kereta. Kereta yang saya naiki adalah kereta lintas kota yang berasal dari Iwaki (100 km dari Desa Tokai) dan berakhir di Stasiun Ueno atau Shinagawa (Tokyo). Dalam hal ini, sedikit banyak saya “membantu” penyebaran virusnya.
  2. Saya akan bertemu dengan banyak orang di tempat tersebut. Ada peluang menularkan. Artinya, saya juga “membantu” penyebaran virus tersebut.

“Saya takut tertular, tapi bagi saya lebih takut lagi menularkannya ke orang lain. Ada beban mental dan moral dalam diri saya.”

Dampak terhadap orang lain:

Pada saat saya terpapar, hal yang saya lakukan adalah memberitahu atasan saya (itu prosedur yang sudah dikeluarkan dari perusahaan tempat saya bekerja).

Dampak yang bisa ditimbulkan adalah:

  1. Tempat kerja dan rekan kerja akan diperiksa kesehatannya. Bisa jadi gedung tempat bekerja harus di tutup sementara.
  2. Tempat tinggal, keluarga dan tetangga sekitar apartemen pastinya akan diperiksa.
  3. Saya pun wajib melaporkan kegiatan saya beberapa hari terakhir dan dengan siapa saja saya melakukan interaksi. Tentunya hal ini akan berdampak buruk bagi mereka yang berinteraksi dengan saya.
  4. Mungkin saya akan dikenakan sanksi oleh perusahaan karena melanggar himbauan yang telah dikeluarkan.

Dampak yang ditimbulkan karena hal sepele yang saya lakukan tentunya bisa menjadi beban moral tersendiri dalam diri saya.

Setelah memaparkan pemikiran saya, Laura dengan sigkatnya berkata: “ Hahh, sampai segitunya cara pandangmu sampai buat asumsi segala. Agak berlebihan ya cara pikirmu. Tapi benar juga ya. Efek yang ditimbulkannya bisa luas juga ternyata.”

“Setiap orang boleh punya cara pandang yang berbeda-beda dalam menanggapi suatu permasalahan.”


Sejak 31 Maret, saya sendiri sudah diperbolehkan untuk bekerja dari rumah. Akan tetapi, karena kondisi pekerjaan saat ini tidak optimal dikerjakan dari rumah (maaf tidak bisa menuliskan alasannya) maka saya masih tetap pergi ke lab untuk bekerja.

Tentunya aktivitas yang saya kerjakan sudah dengan dukungan dari istri dan juga memperlengkapi diri dengan masker, pembersih tangan, dll untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.

Selain itu, di tempat kerja pun sudah menyediakan sarana untuk membantu mengurangi resiko terhadap hal yang tidak diinginkan.

Dengan kondisi saat ini, saya pun dalam bekerja berusaha membatasi ruang gerak dan interaksi antar rekan kerja, salah satunya dengan menjaga jarak.


Bagi mereka yang memang bisa beraktivitas dan bekerja dari rumah mari kita membantu mengurangi resiko tertular atau menularkan.

Bagi kita yang memang harus beraktivitas di luar (seperti kondisi saya juga), mari kita menjaga diri dengan baik-baik. Ada keluarga yang menanti di rumah.


 

Baca juga: Main tebak-tebakan yuk..

Categories: Lain-lain