Pengalaman Tinggal di Desa Tokai Jepang (1)

Tahun 2018 adalah waktu bagi kami untuk membuka lembaran baru kehidupan di Jepang. Meninggalkan zona nyaman di Tokyo dan memasuki zona baru disebuah desa di Jepang.

Pindah ke desa adalah tantangan tersendiri karena saya tidak punya gambaran apapun tentang desa ini secara utuh. Mulai dari sistem transportasi, tempat belanja, hingga tempat ibadah.

Gambaran singkat yang saya peroleh hanyalah dari beberapa teman yang pernah tinggal disini selama beberapa bulan pada saat menjalani internship di perusahaan tempat saya berkerja saat ini, JAEA (Japan Atomic Energy Agency).

Cek Lokasi dari Google Map

Salah satu hal yang sering saya lakukan sebelum pindah adalah menjelajahi desa Tokai secara virtual melalui google map. Hal ini saya lakukan untuk mendapatkan gambaran lokasi kerja, stasiun kereta, hingga suasana lingkungannya. Dari kegiatan ini terangkum bahwa jarak dari Stasiun Tokai ke tempat kerja kurang lebih 5 km dan wilayah yang sebahagian masih berupa hutan atau persawahan.

Tempat Tinggal

Perusahaan tempat saya bekerja memberikan pilihan untuk tinggal di dormitory (asrama) atau mencari apartemen sendiri. Dormitory yang disediakan pun ada untuk yang single maupun yang berkeluarga. Karena saya tidak punya gambaran yang jelas serta tidak mengetahui lokasi desa Tokai dan kota yang ada disekitarnya, maka tinggal di dormitory menjadi pilihan yang saya pilih saat itu.

Hal lain yang tidak saya ketahui adalah, perusahaan ini punya banyak dormitory yang tersebar di beberapa lokasi desa. Hampir diseluruh penjuru desa terdapat dormitory milik perusahaan. Ada yang berlokasi di dekat kantor, ada yang di dekat stasiun Tokai, ada yang dekat ‘pusat desa’ Tokai, hingga ada juga yang di dekat kuburan yang dikelilingi oleh persawahan.

IMG_6521

Minowa Dormitory

Jackpot

Sekitar dua bulan sebelum pindah ke Desa Tokai, perusahaan sudah memberitahukan dormitory yang akan ditempati. Saat itu saya diberikan ijin tinggal di Minowa Dormitory. Langsung saya membuka Google Map untuk melihat lokasi dormitory ini. Hasilnya, dormitory tersebut terletak sekitar 5 km dari Stasiun Tokai dan 3 km dari kantor. Ditambah lagi tidak terdapat supermarket, minimarket, atau bahkan market-market lainnya disekitar dormitory. Hanya ada persawahaan, kuburan, dan bahkan tidak ada rumah warga disekitarnya.

Jackpot sekali saya dapat dormitory ini.

IMG_6520

Pemandangan sekitar dormitory.

Hari Pertama di Desa Tokai

Hari pertama saya tiba di desa Tokai berbanding terbalik dengan apa yang saya rasakan ketika pertama kali tiba di Tokyo.

Saya sengaja pindah ke Desa Tokai pada hari Sabtu sehingga bisa beristirahat dan mengenal lingkungan sekitar sebelum memulai kerja di Hari Senin.

Saya tiba di Stasiun Tokai sekitar pukul 19:30 JST.  Tidak tampak banyak orang berlalu lalang di sekitar stasiun bahkan sulit melihat kendaraan yang melaju di sekitar stasiun. Suasana yang sangat berbeda jauh dengan tempat tinggal sebelumnya. Tapi, gedung AEON 3 lantai yang berdiri di depan stasiun cukup meyakinkan bahwa Desa Tokai ini bukanlah desa yang bisa dipandang sebelah mata saja.

IMG_6362

Stasiun Tokai di malam hari.

 Mumpung ada AEON, saatnya menikmati makan malam di desa ini sambil membeli sedikit makanan dan minuman untuk persediaan di hari esok. Tentu, saya tidak mau bersikap bodoh dengan tidak membeli apapun  di AEON mengingat saya tidak mengetahui dimana lokasi convenience store atau sejenisnya di dekat dormitory.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan sekitar pukul 21:00 JST. Saya pun hendak menuju ke dormitory untuk beristirahat.

Dari Stasiun Tokai ke Minowa Dormitory bisa ditempuh menggunakan bus atau taksi. Biaya yang dibutuhkan dengan bus sekitar ¥350 sedangkan dengan taksi sekitar ¥2.000. Tentulah menggunakan bus menjadi pilihan yang utama tetapi saat itu saya baru menyadari bahwa jadwal bus terakhir dari Stasiun Tokai adalah pukul 20:34 JST ditambah lagi tidak setiap jam ada bus yang beroperasi.

Hal ini tentunya hal pertama yang cukup mengagetkan ketika tinggal di desa Tokai.

Mau tidak mau saya pun harus menggunakan taksi menuju dormitory. Betapa kegetnya saya karena sepanjang perjalanan menuju dormitory tidak ada apapun selain hamparan sawah, tanah kosong, dan beberapa pabrik. Hanya ada satu minimarket dan itu berjarak sekitar 2 km dari stasiun ditambah lagi rute tercepat menuju dormitory memiliki beberapa tanjakan dan turunan.

Hal itu menjadi hal kedua yang membuat saya cukup kaget ketika baru sampai di Desa Tokai.

Baru tiba di Desa Tokai dan belum sampai ke dormitory saja, saya sudah dikagetkan dengan dua hal tersebut. Hal yang belum pernah terjadi selama tinggal di Tokyo.


 

Cerita lainnya: Sabtu Ceria di Desa Nuklir

Categories: Desa Tokai, Tentang Jepang