Pengalaman ketinggalan barang di Stasiun Tokai Jepang

Memasuki bulan Juni di Jepang artinya mempersiapkan diri akan datangnya musim hujan, dimana hujan bisa datang sepanjang hari dengan intensitas yang berbeda-beda. Hal ini tentunya perlu diantisipasi dengan membawa payung. Untuk jenis payung sendiri, saya menyarankan belilah payung yang tahan angin sehingga dapat digunakan pada musim hujan di bulan Juni dan musim taifun disekitar bulan September. Mungkin salah satu jenis payung yang paling ikonik dari Jepang adalah payung transparan (bening). Payung ini bisa dijumpai hampir disetiap convenience store (konbini) maupun supermarket. Payung ini bisa digunakan dengan baik di musim hujan saat ini, tetapi tidak saya rekomendasikan digunakan pada saaat musim hujan disertai taifun karena besar kemungkinan akan rusak.

Kembali lagi ke judul diatas, hari Minggu ini saya berencana untuk pergi beribadah ke Gereja di kota Oarai. Kota Oarai sendiri terletak sekitar 30 km dari Desa Tokai dan satu-satunya transportasi umum yang bisa mencapai kota ini adalah kereta.

Sayangnya, sejak hari Sabtu hujan terus menerus turun hingga hari Minggu sore sekitar pukul 15:30 JST. Hal tersebut membuat saya harus membawa payung. Kebetulan intensitas hujan yang turun sedikit berkurang sehingga saya bisa berangkat dari rumah dengan menggunakan sepeda ke Stasiun Tokai.

Sesampainya di Stasiun Tokai, tidak lupa saya membawa serta payung untuk berjaga-jaga apabila di kota Oarai sedang hujan dan saya harus berjalan kaki dari Stasiun Oarai menuju gereja.

Advertisements

Karena sepanjang jalan tadi hujan yang turun cukup membuat jaket yang saya pakai basah, akhirnya saya pun bergegas ke toilet di dalam stasiun untuk berbenah. Setelahnya, saya duduk sebentar di bangku yang tersedia di dalam stasiun sambil merapikan isi tas bawaan saya. Tidak lupa pula, payung tersebut saya gantungkan di tiang yang ada disamping bangku.

Setelah selesai merapikan isi tas, saya langsung turun menuju platform karena kereta yang akan menuju Stasiun Mito (stasiun transit sebelum menuju Oarai) akan berangkat pukul 16:02 JST.

Sejak pandemi COVID19 ini menyebar hingga status emergency di Jepang (khususnya Ibaraki) sudah dilepas, tetapi jumlah penumpang kereta masih sangat sedikit dibandingkan kondisi sebelum COVID19“.

Tidak ada hal spesial sepanjang perjalanan menuju Mito. Kadang kala saya merekam video pemandangan yang ada di luar kereta. Hingga sesaat sebelum keluar dari kereta, saya baru sadar bahwa payung tersebut tidak ada di kereta. Saya mencoba mengingat-ingat lagi dan terpikir bahwa payung itu tertinggal di sekitar bangku di Stasiun Tokai.

Wah, masa harus beli payung lagi? Masih ada gak ya payungnya di Stasiun Tokai? Beli payungnya di Stasiun Mito atau di Stasiun Oarai ya ? rugi banget nanti beli di Mito tahu-tahu hujannya sudah reda di Oarai.

Hal-hal semacam itu lah yang terpikir dibenak saya saat itu. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk tidak membeli payung. Hahaha

Kenapa saya memutuskan untuk tidak membeli payung? Pertama, saya sudah mengecek di aplikasi cuaca yang mengatakan bahwa kota Oarai tidak hujan pukul 17:00 – 18:00. Kedua, saya menghubungi teman dan dia bisa menjemput di Stasiun Oarai kalau ternyata hujan.

Singkat cerita, saya akhirnya tiba di Stasiun Oarai dan ternyata tidak hujan. Baru saja saya menghubungi teman tersebut melaui chat dengan maksud agar saya tidak perlu dijemput, malah saya bertemu dengan teman lain yang sedang memarkirkan mobilnya di depan stasiun. Akhirnya, saya pun menuju gereja bersama dengan beliau.

Setelah Ibadah Gereja selesai dan saya akan kembali menggunakan kereta dari Stasiun Oarai menuju ke desa Tokai, saya tidak berharap banyak akan keberadaan payung yang ketinggalan tersebut. Disisi lain, saya juga penasaran dengan perkataan banyak orang tentang Jepang, dimana salah satunya adalah barang ketinggalan tidak akan hilang dan kalaupun tidak ada di tempatnya, bisa ditanyakan ke petugas di stasiun tersebut. Dan ini adalah salah satu kesempatan untuk membuktikan omongan tersebut.

Begitu kereta berhenti di Stasiun Tokai, saya pun bergegas menuju bangku tersebut dan ternyata payung tersebut masih ada disana walaupun posisinya sudah berpindah dari tempat asalnya.

Payung yang tertinggal di Stasiun Tokai.

Wah, ternyata memang benar apa yang dibilang orang selama ini tentang Jepang mengenai barang yang ketinggalan di tempat umum. Tapi, bukan berarti hal ini bisa dijadikan patokan 100% ya teman-teman. Tetap berhati-hati dan mengecek barang bawaan anda ya.

Musim di Jepang

Penulis: Irwan Liapto Simanullang Jepang merupakan negara yang terletak di daerah subtropis. Pada umumnya negara yang terletak di zona subtropis mempunyai empat musim selama satu tahun. Keempat musim tersebut yaitu: […]

Bahasa Inggris dan Beasiswa

Latar belakang Sudah menjadi rahasia umum bahwa syarat utama untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri baik melalui program beasiswa maupun biaya sendiri adalah kemampuan berbahasa inggris. Salah satu impian masa […]

“One Day Trip” ke Oarai-machi

Jepang adalah salah satu negara yang sangat menarik untuk didatangi baik sekedar berwisata, menuntut ilmu atau bahkan bekerja. Untuk wisata tentunya kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, dan Osaka masih menjadi […]

Categories: Desa Tokai, Tentang Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s