Celotehan Suami Istri (CSI): #14. Toilet Bocor!!!

Ini adalah minggu pertama Laura tinggal di Jepang tepatnya di Kota Kawasaki kelurahan Miyamae.

Meskipun belum sampai seminggu tinggal di Jepang, bukan berarti ini pertama kalinya Laura ke Jepang. Dia sudah beberapa kali ke negara ini sebagai turis mengunjungi suami pada saat menjalani “Long Distance Marriage”.

Ternyata menjadi turis dan “penduduk lokal” adalah dua hal yang berbeda.

Kali ini adalah kisah sepasang suami istri yang baru saja memulai tinggal bersama di Jepang.

Oktober 2016

Laura (L); Irwan (I)

I: Sayang, ada rencanamu keluar hari ini?

L: Gak ada, di rumah aja beresin koper sama rapiin barang.

I: OK. Yaudah, aku berangkat ke lab dulu. Love u.

L: Love u too.. (sambil mengantar sampai ke pintu)

Kebiasaan menghantar suami berangkat kerja masih terlaksana hingga saat ini.”

Kami pun memulai aktifitas masing-masing di pagi hari seperti biasanya. Hingga tiba-tiba ada panggilan masuk dari Laura.

L: Toilet bocor. Airnya sudah sampai ke dapur. (Nada panik terdengar dari suara Laura).

I: Hahh??? Coba pelan-pelan dulu ngomongnya. Gak paham aku. Itu kan toilet kering, gimana ada air bocor?

L: Tahu ember yang buat nampung air? Kita taruh kan selang buat semprotan toilet di dalamnya.

Fakta menarik

Hampir semua toilet di Jepang menganut sistem Toilet kering. Bagi yang tinggal di rumah tua biasanya toiletnya tidak ada sistem semprotan (semoga kalian paham yang saya maksud), hasilnya kalau buang air dibersihkan dengan tisu kering saja. Perlu kreatifitas lebih untuk bisa menggunakan kebiasaan seperti di Indonesia, salah satunya dengan ember kecil penampung air.

I: Iya, kan kosong airnya semalam.

L: Iya, ternyata air dari semprotan itu netes kecil-kecil dari semalam. Ini aku lagi beresin dapur dan air dari toilet sudah sampai ke dapur.

I: Hahhhhh…. Mati kitaaaa.. Bocorlah itu ke kamar apato yang di bawah kita.

L: Serius???

I: Iya, yang boleh basah kan cuma kamar mandi doank. Waduhhhh.. Yaudah bersihkanlah dulu.

L: Iya, ini lagi kubersihkan. Yaudah, lanjutlah dulu.

Advertisements

Ternyata, itu adalah awal dari rentetan kejadian penuh drama di hari itu. Sore harinya, Laura kembali menelepon.

I: Gimana? Udah kering toiletnya?

L: Toilet kita udah kering sih, tapi toilet di bawah kita yang basah kena rembesannya.

I: Hehhh? Tahu dari mana?

L: Tadi ada ibu yang ketuk pintu, ternyata tetangga bawah kita. Dia bilang toiletnya basah kena rembesan air dari bawah. Protes-protes gitulah pokoknya. Dia bilang ganti rugi apalah gitu.

I: Si ibu bisa bahasa Inggris?

L: Gak bisa, ya tadi kami ngobrol pakai google translate ditambah bahasa tubuh. Pulanglah sekarang sekalian ambil uang untuk ganti rugi.

I: Nanti jam 8 baru bisa pulang, ini lagi mau diskusi trus mau pergi part-time.

Setelah semua urusan selesai, akhirnya saya pun pulang ke rumah.

I: Yuk ke bawah minta maaf.

L: Kau aja lah, aku takut. Hehehe

I: Hemmm.. Ayolah sama-sama, sekalian kenalan juga.

Akhirnya kami berdua turun ke bawah untuk meminta maaf kepada tetangga atas kecerobohan kami. Ternyata, kami disambut oleh seorang nenek (N) yang adalah orangtua dari si ibu tersebut. Sedangkan si ibu yang bertemu Laura sedang tidak ada di rumah.

I: Selamat malam. Maaf menggangu. Kami mau minta maaf atas kesalahan kami karena air dari atas sudah merembes ke toilet rumah nenek.

N: Selamat malam. Ooo.. Kalian tetangga diatas ya. Orang baru ya? dari negara mana?

I: Iya, kami baru pindah kesini, kami dari Indonesia. Maaf ya nek sudah mengganggu.

N: Mari masuk..(Nenek pun berjalan menuju toilet untuk memperlihatkan kondisi toiletnya akibat rembesan air itu)

I: Hehhh, ternyata persediaan tisu toilet si nenek basah ya terkena rembesan air. Maaf ya nek atas gangguannya. Oiya nek, air yang merembes itu bukan air kotor. Airnya berasal dari kran air yang lupa kami tutup.

N: Iya gpp.. Oiya, kalian disini kerja?

I: Tidak nek, saya sedang kuliah dan isteri di rumah.

N: Hehhh.. kuliah? kenapa pulangnya malam sekali?

Advertisements

I: Ini tadi habis ada part-time dulu nek, setelah itu baru pulang. Oiya nek, kami ganti ya nek kerugiannya. Soalnya tadi kata istri, anaknya nenek udah ngobrol sama istri terus bilang ganti rugi. Kalau boleh tahu kami harus ganti berapa?

N: hehh.. Gpp.. gak perlu diganti. Tapi lain kali hati-hati yaa.

I: Hehh? serius nek? Makasih banyak ya nek. Maaf sekali lagi ya nek atas ketidaknyamanannya.

Selanjutnya kami pun berbincang-bincang sebentar dengan menggunakan bahasa Jepang yang terbata-bata.

Awal-awal kepindahan istri ke Jepang memang penuh drama padahal dulu waktu dia jadi turis tidak ada masalah apa-apa. Semuanya lancar, aman, damai, sentosa.

‘Kafunsho’ Alergi Serbuk Bunga

Musim semi adalah salah satu musim terindah di Jepang (Musim di Jepang). Tentunya daya tarik utamanya adalah keindahan BUNGA SAKURA. Tapi tunggu dulu, bagi sebagian besar orang yang sudah lama tinggal di […]

Categories: CSI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s